DONYAPOST, Banda Aceh — Kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Aceh didorong menguasai kemampuan diplomasi dan membangun jejaring strategis agar mampu memperluas peran organisasi serta menjalin kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Kemampuan tersebut dinilai menjadi modal penting bagi kader muda Nahdlatul Ulama (NU) dalam menghadapi dinamika sosial yang semakin kompleks.
Hal itu disampaikan Sekretaris Wilayah (Sekwil) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Aceh, Dr. Rahmad Syah Putra, M.Pd., M.Ag., saat menjadi pemateri dalam kegiatan Latihan Kader Muda (LAKMUD) dan Rapat Pimpinan Wilayah (RAPIMWIL) Pimpinan Wilayah IPNU Aceh di Gedung PGRI Aceh, 31 Oktober hingga 1 November 2026.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu diikuti 32 kader IPNU dari sejumlah Pimpinan Cabang (PC) kabupaten/kota di Aceh.
Dalam materi bertajuk Teknik Lobbying dan Penguatan Networking dalam Organisasi Kepemudaan, Rahmad menekankan bahwa kader IPNU tidak cukup hanya memiliki kapasitas akademik dan pemahaman keagamaan. Mereka juga perlu menguasai keterampilan komunikasi, diplomasi, serta kemampuan membangun hubungan strategis.
Menurutnya, kader IPNU harus mampu membawa organisasi berinteraksi lebih luas dengan berbagai pihak. Lobbying dan networking bukan sekadar memperbanyak relasi, melainkan membangun kepercayaan, memperkuat posisi organisasi, dan membuka ruang kolaborasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Kader muda NU tidak boleh hanya jago di tataran wacana internal, tetapi harus mampu keluar membangun jembatan komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Lobbying dan networking pada dasarnya adalah seni membangun kepercayaan untuk melahirkan manfaat yang lebih luas bagi organisasi dan masyarakat,” ujarnya.
Rahmad kemudian menguraikan lima aspek penting dalam memperkuat kapasitas diplomasi kader.
Pertama, membangun networking sebagai modal sosial yang berlandaskan nilai, kredibilitas, dan integritas, bukan sekadar mengumpulkan kontak atau memperluas daftar relasi.
Kedua, menguasai teknik lobbying persuasif dengan mengedepankan data, fakta, etika, serta pendekatan win-win solution. Diplomasi yang efektif, menurutnya, harus tetap mencerminkan kesantunan dan nilai-nilai tradisi Nahdliyin.
Ketiga, memetakan mitra strategis melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan komunitas. Pemetaan ini diperlukan agar kader dapat menentukan strategi komunikasi sesuai karakter dan kepentingan masing-masing mitra.
Keempat, mengoptimalkan jaringan alumni dan kemitraan dengan memanfaatkan potensi kader serta alumni NU yang tersebar di berbagai sektor strategis. Jaringan tersebut dapat menjadi modal sosial untuk memperluas jangkauan dan kontribusi organisasi.
Kelima, memperkuat komunikasi asertif dan diplomasi berkelanjutan. Kader IPNU diharapkan mampu menyampaikan gagasan secara tegas, lugas, dan terstruktur tanpa mengabaikan sikap rendah hati serta etika organisasi.
Pembekalan berlangsung interaktif melalui diskusi dan simulasi diplomasi. Para peserta berkesempatan mempraktikkan penyusunan strategi komunikasi, penyampaian gagasan, serta pendekatan membangun jejaring yang dapat diterapkan dalam pengembangan organisasi. []
