DONYAPOST, Banda Aceh — Forum Reje bersama perwakilan masyarakat adat Kabupaten Aceh Tengah menyampaikan sejumlah persoalan pertanahan kepada Lembaga Wali Nanggroe Aceh.
Aspirasi itu mencakup tanah adat, hutan adat, hak ulayat, kewenangan masyarakat adat dalam pengelolaan hutan, hingga penataan tapal batas wilayah adat.
Aspirasi tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan Lembaga Wali Nanggroe di Banda Aceh, Kamis (17/9/2026).
Kabag Humas dan Kerjasama Wali Nanggroe Zulfikar Idris mengatakan, pertemuan tersebut menjadi ruang dialog bagi para reje dan perwakilan masyarakat adat untuk menyampaikan berbagai persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat di sejumlah wilayah di Aceh Tengah.
“Pertemuan ini menjadi ruang dialog bagi para reje dan perwakilan masyarakat adat untuk menyampaikan berbagai persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat di sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tengah,” kata Zulfikar seusai pertemuan.
Dari Lembaga Wali Nanggroe, pertemuan dihadiri Anggota Majelis Tuha Peut Prof. Dr. Syahrizal Abbas, MA, Staf Khusus Dr. M. Raviq dan Prof. Dr. Rustam Effendi, SE., M.Econ., serta Khatibul Wali Abdullah Hasbullah.
Sementara dari Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) dan Forum Reje Kabupaten Aceh Tengah hadir Ketua Forum Reje/APDESI Kabupaten Aceh Tengah Abdul Wahid, Bukhari mewakili Forum Kecamatan Rusip Antara, Hasan Basri mewakili Forum Kecamatan Silih Nara, Wahyu Putra mewakili Forum Kecamatan Linge, Ridwansyah mewakili Forum Kecamatan Bintang, serta Armaja mewakili Forum Kecamatan Ketol.
Ketua Forum Reje/APDESI Kabupaten Aceh Tengah Abdul Wahid mengatakan, persoalan tanah adat dan hutan adat bukan persoalan baru. Berbagai persoalan tersebut, kata dia, telah berlangsung cukup lama sehingga membutuhkan penyelesaian konkret dengan melibatkan berbagai pihak.
Ia mengapresiasi Lembaga Wali Nanggroe yang menerima dan mendengarkan langsung aspirasi Forum Reje dan perwakilan masyarakat Aceh Tengah.
Abdul Wahid berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada penyampaian aspirasi.
“Ini menjadi langkah awal untuk mendorong penyelesaian terhadap persoalan tanah, hutan dan hak-hak masyarakat adat di Aceh Tengah,” kata Abdul.
Anggota Majelis Tuha Peut Lembaga Wali Nanggroe, Prof. Dr. Syahrizal Abbas, MA, mengapresiasi APDESI Kabupaten Aceh Tengah, Forum Reje, Forum Mukim, serta para pihak yang datang dan menyampaikan aspirasi secara langsung.
Menurut Syahrizal, sejumlah persoalan yang dibahas berkaitan erat dengan keberadaan dan kewenangan masyarakat adat, terutama menyangkut hak ulayat, tanah adat, kewenangan masyarakat adat dalam mengelola hutan, serta tapal batas wilayah adat.
“Pada prinsipnya, persoalan ini adalah persoalan kita bersama. Lembaga Wali Nanggroe akan melakukan kajian dan mengambil langkah melalui komunikasi dengan pemerintah pusat maupun pemegang otoritas di tingkat Pemerintah Aceh, kabupaten, dan nasional,” jelas Syahrizal.
Ia menegaskan, Lembaga Wali Nanggroe merupakan payung bagi seluruh masyarakat Aceh. Karena itu, berbagai persoalan yang berkaitan dengan masyarakat adat dapat disampaikan kepada Lembaga Wali Nanggroe untuk dibahas serta dicarikan jalan penyelesaiannya.
Dalam proses tersebut, Lembaga Wali Nanggroe juga menekankan pentingnya seluruh pihak menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Kondisi yang aman dan kondusif dinilai penting agar setiap persoalan dapat diselesaikan melalui musyawarah dan mekanisme kelembagaan.
Forum Reje dan Forum Mukim di Aceh Tengah juga didorong melakukan musyawarah serta penataan wilayah mukim. Langkah tersebut diperlukan untuk memperjelas wilayah adat sekaligus hak-hak masyarakat adat yang berada di dalamnya.
Selanjutnya, koordinasi akan dilakukan dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Majelis Adat Gayo (MAG) Kabupaten Aceh Tengah dan DPRK Aceh Tengah. Berbagai dokumen terkait wilayah dan hak masyarakat adat juga akan dihimpun sebagai bahan kajian dan tindak lanjut.
Seluruh dokumen serta hasil koordinasi tersebut selanjutnya akan disampaikan kepada Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe untuk mendapatkan perhatian dan tindak lanjut.
Dalam pertemuan itu, Syahrizal turut menyinggung aspek sejarah kawasan Aceh Tengah, khususnya keberadaan Kerajaan Linge sebagai bagian dari sejarah panjang pemerintahan dan wilayah adat di Aceh.
Aspek historis tersebut dinilai penting dalam menelaah keberadaan wilayah serta hak masyarakat adat di Aceh Tengah.
“Jauh sebelum Republik hadir, kerajaan itu sudah ada, wilayah itu sudah ada, tanah dan hutan itu sudah ada. Kita kembalikan lagi kepada pemilik yang sesungguhnya, yaitu masyarakat,” ujar Syahrizal.[]
