DONYAPOST, Banda Aceh — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Aceh Barat akan menggelar Festival Literasi Aceh Barat 2026 di halaman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) setempat, 16–19 September 2026.
Festival yang mengusung tema “Aceh Barat Menuju Pusat Literasi Informasi” tersebut bertujuan memperkuat budaya literasi sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi, pengetahuan, dan bahan bacaan berkualitas.
Kepala Dispusip Aceh Barat, Abdurrani, S.Pd., M.Pd., mengatakan festival tersebut menjadi ruang kolaborasi bagi pemerintah, masyarakat, pelajar, mahasiswa, komunitas literasi, pelaku UMKM, dunia pendidikan, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap literasi.
“Festival Literasi ini akan menjadi salah satu ruang kolaborasi bagi pemerintah, masyarakat, pelajar, mahasiswa, komunitas literasi, pelaku UMKM, dunia pendidikan dan berbagai pihak lainnya yang memiliki kepedulian terhadap literasi di Aceh Barat,” kata Abdurrani, Senin (7/9/2026).
Beragam kegiatan akan memeriahkan festival tersebut, di antaranya Gramedia Book Fair, bedah buku, seminar literasi, kegiatan edukasi, aktivitas komunitas, pameran, hingga keterlibatan pelaku UMKM.
“Kehadiran berbagai kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman literasi yang lebih dekat dengan masyarakat sekaligus menciptakan ruang interaksi dan pertukaran gagasan,” ujarnya.
Menurut Abdurrani, festival tersebut juga diharapkan dapat mendekatkan buku dan informasi kepada masyarakat.
Di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin memudahkan masyarakat memperoleh informasi, derasnya arus informasi juga menghadirkan tantangan baru. Masyarakat dituntut mampu memilah informasi yang benar, bermanfaat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Karena itu, literasi tidak lagi hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis, namun juga mencakup kemampuan masyarakat dalam mengakses, memahami, mengolah, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara bijak,” ujar Abdurrani.
Ia mengatakan festival literasi juga diharapkan memperluas pemahaman masyarakat bahwa perpustakaan dan ruang literasi bukan sekadar tempat menyimpan dan membaca buku.
Lebih dari itu, perpustakaan dapat menjadi pusat pembelajaran, kreativitas, informasi, inovasi, serta ruang interaksi masyarakat.
“Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian penting dalam membangun gerakan literasi yang tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah maupun perpustakaan, tetapi juga tumbuh di tengah masyarakat,” katanya.
Abdurrani berharap Festival Literasi Aceh Barat 2026 menjadi langkah untuk memperkuat posisi Aceh Barat sebagai daerah yang memiliki perhatian serius terhadap pengembangan budaya membaca, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pemanfaatan informasi secara cerdas.
“Semangat tersebut diwujudkan melalui kolaborasi dan partisipasi berbagai pihak. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, perpustakaan, komunitas, dunia usaha, pelaku UMKM, serta masyarakat memiliki peran yang sama dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya budaya literasi,” pungkasnya. []






