Berita  

Banjir Rusak Irigasi, Petani Andalkan Pompanisasi untuk Tetap Panen

Petani terdampak banjir Aceh Utara menggunakan pompa bantuan Unit Pengelola Irigasi (UPI) Jambo Aye-Langkahan untuk menjaga keberlanjutan pasokan air ke sawah mereka | Foto via Waspada.id

DONYAPOST, Aceh Utara— Banjir besar yang melanda Aceh Utara pada akhir 2025 lalu belum sepenuhnya meninggalkan persoalan bagi petani. Kerusakan parah pada Saluran Sub Daerah Irigasi (D.I.) Mon Sukon membuat pasokan air ke sejumlah areal persawahan belum kembali normal.

Di tengah proses perbaikan yang masih berlangsung, petani terpaksa mencari cara agar lahan tetap bisa digarap. Salah satunya dengan mengandalkan sistem pompanisasi yang dibantu Unit Pengelola Irigasi (UPI) Jambo Aye-Langkahan.

Pompa tersebut menjadi penopang penting bagi petani di Gampong Blang Nibong dan sejumlah wilayah sekitarnya. Dengan sistem itu, puluhan hektare sawah masih dapat memperoleh pasokan air untuk kebutuhan pertanian.

Keujruen Blang Baktiya Barat, Mansyari, mengatakan pompanisasi menjadi solusi sementara bagi petani yang terdampak kerusakan jaringan irigasi.

“Untuk tetap bisa mengolah lahan dan turun ke sawah, petani terpaksa mengandalkan sistem pompanisasi dari bantuan UPI Jambo Aye-Langkahan,” kata Mansyari seperti dilansir Waspada.id, Sabtu (29/8/2026).

Sistem tersebut memanfaatkan air dari Sungai Sampoinet. Air terlebih dahulu dialirkan melalui saluran pembuang irigasi, kemudian dipompa menggunakan mesin untuk disalurkan ke areal persawahan warga.

Upaya tersebut setidaknya mampu menjaga aktivitas pertanian tetap berjalan. Bahkan, kata Mansyari, petani sudah beberapa kali berhasil memanen padi meski kondisi jaringan irigasi utama belum sepenuhnya pulih.

Areal persawahan yang mendapat suplai dari sistem pompanisasi itu antara lain berada di Blang Nibong, Munje Peut, Mon Sukon, Lubok Mane, dan Blang Seunong.

“Lahan sawah di Blang Seunong luasnya sampai 50 hektare,” ujarnya.

Namun, kelancaran pompanisasi masih bergantung pada kondisi saluran pembuang yang menjadi jalur masuk air dari Sungai Sampoinet. Karena itu, petani berharap saluran tersebut segera dibersihkan agar pasokan air dapat mengalir lebih lancar.

Perbaikan Irigasi Capai 80 Persen

Sementara itu, petugas pengairan UPI Jambo Aye-Langkahan, Mawardi, mengatakan Saluran Sub D.I. Mon Sukon merupakan salah satu jaringan irigasi yang mengalami kerusakan cukup parah akibat banjir Aceh Utara.

Perbaikan terus dilakukan di sejumlah titik yang terdampak. Hingga Sabtu (29/8), progres perbaikan jaringan tersebut disebut telah mencapai sekitar 80 persen.

“Baru saja saya kembali dari lapangan, sudah selesai sekitar 80 persen,” ujar Mawardi.

Menurutnya, kerusakan yang terjadi cukup berat sehingga membutuhkan penanganan secara bertahap. Meski demikian, petugas terus berupaya mempercepat pekerjaan agar fungsi jaringan irigasi dapat segera kembali normal.

Di sisi lain, UPI Jambo Aye-Langkahan juga berupaya membantu petani yang belum memperoleh suplai air akibat kerusakan jaringan. Bantuan pompa diberikan sesuai kebutuhan di lapangan.

“Seperti di Blang Nibong Baktiya Barat, warga butuh pompa, ya, kami bantu,” katanya.

Bagi petani, pompanisasi bukan sekadar solusi sementara. Sistem tersebut menjadi penyangga agar aktivitas pertanian tidak terhenti total selama jaringan irigasi utama masih dalam tahap pemulihan.

Kondisi ini sekaligus menunjukkan pentingnya percepatan perbaikan Saluran Sub D.I. Mon Sukon. Sebab, keberlangsungan musim tanam dan panen petani di sejumlah gampong masih sangat bergantung pada normalnya jaringan irigasi tersebut. [wspid]