Zaini Yusuf: Sudah Saatnya PSSI Aceh Berganti Kepemimpinan

Zaini Yusuf, mantan Presiden Aceh United FC

DONYAPOST, Banda Aceh — Polemik menjelang Kongres Biasa Pemilihan Asprov PSSI Aceh 2026 terus menghangat. Mantan Presiden Klub Aceh United sekaligus mantan pemain PSSB Bireuen, M. Zaini Yusuf, menilai sudah saatnya terjadi pergantian kepemimpinan di tubuh Asprov PSSI Aceh.

Menurut Zaini, kepemimpinan selama dua periode dinilai cukup dan kini momentum kongres harus dimanfaatkan untuk menghadirkan energi, gagasan, serta arah baru bagi sepak bola Aceh.

“Sudah saatnya PSSI Aceh ganti kepemimpinan. Saya rasa dua periode sudah cukup untuk Bang Nazir Adam dalam memimpin PSSI Aceh,” ujar pria yang akrab disapa Bang M kepada media, Selasa (25/8/2026).

“Kita butuh pemimpin baru yang punya semangat baru, visi dan misi baru, transparan, serta fokus pada pembinaan usia dini dan prestasi,”

Ia menilai perkembangan sepak bola Aceh dalam beberapa tahun terakhir belum menunjukkan kemajuan yang signifikan.

Salah satu indikatornya adalah belum adanya wakil Aceh di Liga 3 nasional, sementara pelaksanaan Liga 4 dan Piala Soeratin zona Aceh juga dinilai belum mencapai sasaran yang diharapkan.

Selain itu, Zaini menyoroti minimnya dukungan terhadap pembinaan klub-klub di daerah. Menurutnya, berbagai persoalan tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius dalam menentukan arah kepengurusan Asprov PSSI Aceh periode 2026-2030.

“Selama ini sepak bola Aceh seperti berjalan di tempat. Liga 3 kita tidak punya wakil, kompetisi Liga 4 dan Soeratin belum mencapai sasaran, pembinaan klub-klub di daerah juga minim dukungan,” katanya.

Zaini menegaskan kritik tersebut disampaikan berdasarkan pengalamannya sebagai mantan pemain dan pernah memimpin klub profesional di Aceh. Ia meyakini Aceh memiliki modal besar untuk membangun sepak bola yang lebih kompetitif, terutama dari sisi potensi pemain muda.

“Sebagai mantan pemain dan mantan presiden klub, saya tahu betul apa yang dibutuhkan sepak bola Aceh. Kita punya potensi besar dan bibit-bibit pemain bagus. Tapi kalau manajemennya tidak berubah, hasilnya akan sama saja,” tegasnya.

Soroti Keterbukaan Kongres

Selain persoalan prestasi, Zaini juga menyoroti proses tahapan Kongres Biasa Pemilihan Asprov PSSI Aceh yang menurutnya perlu dilakukan secara lebih terbuka.

Ia berharap PSSI pusat dan para pemilik suara di Aceh dapat menggunakan haknya secara objektif serta tidak terpengaruh oleh pertimbangan personal dalam menentukan pemimpin baru.

“Jangan sampai prosesnya tertutup dalam semua tahapan pemilihan. Berikan kesempatan kepada sosok-sosok baru yang punya semangat membangun. Ini momentum untuk menyelamatkan sepak bola Aceh,” ujarnya.

Menurut Zaini, regenerasi kepemimpinan bukan semata-mata persoalan mengganti figur. Lebih dari itu, pergantian kepemimpinan harus menjadi pintu masuk untuk memperbaiki tata kelola, memperkuat kompetisi, dan membangun pembinaan pemain secara berjenjang.

Ia berharap kongres mendatang benar-benar menjadi forum untuk menentukan masa depan sepak bola Aceh, bukan sekadar agenda pergantian kepengurusan.

Sebelumnya, sejumlah klub, termasuk Persip Pase Aceh Utara, juga telah menyampaikan sikap serupa dan mendorong adanya regenerasi dalam kepengurusan Asprov PSSI Aceh periode 2026-2030. []