Indeks
Berita  

Prof Mujib Desak Pemda Perketat Izin dan Pengawasan Daycare di Aceh

Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag

DONYAPOST, Banda Aceh — Rektor Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Mujiburrahman, menyoroti maraknya kasus kekerasan di tempat penitipan anak (daycare) di Aceh dan menyebutnya sebagai alarm serius yang berdampak langsung pada tumbuh kembang anak.

“Anak-anak yang mengalami trauma psikis dan fisik tentu akan bermasalah dalam proses tumbuh kembangnya. Ini tidak bisa kita abaikan,” ujarnya kepada media, Rabu (29/4/2026) di Darussalam.

Menurutnya, meningkatnya kasus penganiayaan atau pengabaian di daycare bukan sekadar kesalahan individu, melainkan menunjukkan adanya persoalan sistemik.

Ia menilai faktor seperti rendahnya kompetensi pengasuh, lemahnya pengawasan, serta belum optimalnya implementasi regulasi menjadi penyebab utama.

Karena itu, ia mendesak pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret, mulai dari memperketat sistem perizinan dan akreditasi daycare, memastikan pengawasan rutin berjalan efektif, hingga menegakkan sanksi tegas terhadap setiap pelanggaran.

Selain itu, pemerintah juga didorong menetapkan standar minimum layanan daycare, mencakup kualifikasi akademik pengasuh, rasio ideal antara pengasuh dan anak, kewajiban pelatihan berkala, serta sistem pelaporan yang transparan dan mudah diakses masyarakat.

Mujiburrahman juga menekankan pentingnya edukasi kepada orang tua agar lebih selektif dalam memilih tempat penitipan anak serta berani melaporkan jika terjadi dugaan kekerasan.

Di sisi lain, UIN Ar-Raniry menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan pemerintah daerah, Bunda PAUD, dan instansi terkait dalam meningkatkan kualitas pengelolaan PAUD di Aceh, baik dari aspek kurikulum, tata kelola, maupun kompetensi tenaga pendidik.

Salah satu langkah yang didorong adalah membuka akses pendidikan bagi guru PAUD melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), khususnya bagi tenaga pendidik yang belum memiliki gelar sarjana.

“Sebagian besar guru PAUD masih lulusan SMA. Melalui RPL, kita berikan kesempatan untuk meningkatkan kualifikasi akademik mereka,” katanya.

Ia menegaskan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi kunci utama dalam mencegah kekerasan di lingkungan daycare.

“Daycare bukan sekadar tempat menitipkan anak, tetapi ruang penting bagi tumbuh kembang mereka. Karena itu, aspek keamanan dan kualitas pengasuhan harus menjadi prioritas utama,” tegasnya. []

Exit mobile version