DONYAPOST, Banda Aceh — Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Mujiburrahman MAg, meminta pengelolaan zakat dan wakaf tidak berhenti pada kajian akademik.
Menurutnya, riset dan pembahasan tentang keuangan sosial Islam harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan langsung masyarakat.
Hal itu disampaikan Mujiburrahman saat membuka 4th Aceh International Symposium on Zakat and Waqf (AISZAWA) 2026 di Ruang Teater Museum UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Kamis (17/9/2026).
“Jihad akademik yang kita hasilkan dalam forum ini tentu baru dikatakan bermakna kalau dia berdampak kepada umat, masyarakat, bangsa, dan negara,” kata Mujiburrahman.
AISZAWA 2026 diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry dengan tema “Zakat and Waqf for Inclusive Development: Innovation, Governance, and Global Collaboration to Strengthen Islamic Social Finance.”
Forum tersebut mempertemukan akademisi, praktisi, pembuat kebijakan, mahasiswa, serta pemangku kepentingan dari Indonesia, Malaysia, dan Filipina untuk membahas penguatan keuangan sosial Islam melalui inovasi, tata kelola, dan kolaborasi lintas negara.
Mujiburrahman menegaskan perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan gagasan. Hasil penelitian dan diskusi akademik, kata dia, harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
“Kalau hanya dalam sebatas ego sektoral akademis, maka lebih baik simposium seperti ini tidak dilaksanakan lagi pada tahun-tahun mendatang,” ujarnya.
Ia mencontohkan pengelolaan dana umat melalui Islamic Trust Fund (ITF) Ar-Raniry. Lembaga tersebut dibentuk untuk membantu mahasiswa yang menghadapi persoalan ekonomi dan berisiko berhenti kuliah.
Dalam empat tahun terakhir, Mujiburrahman mengatakan ITF telah membantu biaya UKT dan beasiswa bagi lebih dari 2.000 mahasiswa, dengan total dana yang disalurkan hampir Rp5 miliar.
Dana tersebut berasal dari zakat, infak, sedekah, dan wakaf uang yang dihimpun dari sivitas akademika UIN Ar-Raniry dan masyarakat.
Menurut Mujiburrahman, zakat dan wakaf memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar instrumen ibadah dan amal. Keduanya dapat dimanfaatkan untuk membantu pengentasan kemiskinan, memperluas akses pendidikan, memberdayakan ekonomi, serta mendukung pembangunan berkelanjutan.
“Zakat dan wakaf bukan lagi sekadar instrumen ibadah ritual individu. Di era modern ini, keduanya telah bertransformasi menjadi pilar strategis ekonomi umat,” ujarnya.
Namun, pengelolaan zakat dan wakaf masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari tata kelola, regulasi, literasi masyarakat hingga pemanfaatan teknologi digital.
Dekan FEBI UIN Ar-Raniry, Prof Dr Azharsyah Ibrahim, mengatakan pengelolaan zakat dan wakaf perlu bergeser dari orientasi amal menuju pemberdayaan masyarakat.
“The ultimate goal is not simply to distribute resources, but also to empower people and create sustainable opportunities,” kata Azharsyah.
Menurutnya, AISZAWA 2026 menyoroti tiga aspek utama, yakni inovasi, tata kelola, dan kolaborasi global.
Aceh, kata Azharsyah, memiliki sejumlah modal untuk mengembangkan keuangan sosial Islam, di antaranya Baitul Mal, potensi wakaf, lembaga keuangan syariah, dukungan regulasi, perguruan tinggi, serta tradisi filantropi masyarakat.
Ia berharap Aceh dapat menjadi living laboratory bagi pengembangan keuangan sosial Islam.
“Kami di FEBI tentu ingin berperan lebih jauh sebagai academic hub nantinya, yang menghubungkan antara research, policy, dan juga practice,” ujarnya.
Pembukaan AISZAWA 2026 juga ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara UIN Ar-Raniry dan Kolej Universiti Islam Johor Sultan Ibrahim (KUIJSI), Malaysia.
MoU ditandatangani Rektor UIN Ar-Raniry Mujiburrahman dan Rektor KUIJSI, Prof Madya Dr Hussin bin Salamon.
Kerja sama tersebut mencakup bidang akademik, penelitian, pendidikan tinggi, dan pembangunan modal insan. Kedua perguruan tinggi juga membuka peluang penelitian bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta peningkatan mutu pembelajaran.
Kesepahaman itu juga mencakup pengakuan pemindahan kredit bagi lulusan diploma KUIJSI yang melanjutkan pendidikan sarjana di UIN Ar-Raniry.
AISZAWA 2026 menghadirkan akademisi dan praktisi dari Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Di antaranya Prof Dr Abdul Ghafar Ismail dari Universiti Kebangsaan Malaysia, Dr Nik Mohd Nik Yusuf dari Forum Ekonomi Manusiawi Malaysia, Prof Shahrul Ifwat dari Universiti Sultan Zainal Abidin, serta Dr Alizaman D Gamon dari Imam Council of the Philippines.
Dari Aceh, forum menghadirkan Fahmi M. Nasir dari Baitul Mal Aceh dan turut dihadiri Kepala Baitul Mal Aceh Tgk. Muhammad Yunus.
AISZAWA 2026 berlangsung pada 17–18 September 2026. Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan call for paper dalam tiga sesi paralel di lingkungan FEBI UIN Ar-Raniry.
Forum tersebut diharapkan menghasilkan kajian sekaligus gagasan yang dapat diterapkan dalam pengelolaan zakat dan wakaf untuk memperkuat keuangan sosial Islam dan pembangunan yang inklusif. []






