DONYAPOST — Pagi itu, kawasan Car Free Day di Kota Banda Aceh tak hanya dipenuhi pelari, pesepeda, dan warga yang berolahraga santai. Di tengah riuh aktivitas, sekelompok anak muda berdiri membentuk setengah lingkaran.
Suara puisi, lantunan musik, dan harmoni paduan suara perlahan mengalun. Bukan sekadar hiburan—ini adalah peringatan.
Melalui Seni Adaptasi Nandong Smong, Universitas Syiah Kuala (USK) menghadirkan cara berbeda dalam mengingatkan publik tentang bahaya tsunami, dalam rangka peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026, Minggu (26/4/2026) kemarin.
Pertunjukan ini bukan tanpa makna. Nandong Smong berasal dari tradisi lisan masyarakat Simeulue yang sejak lama menjadi “alarm alami” bagi warga ketika tanda-tanda tsunami muncul. Kini, tradisi itu dihidupkan kembali—dibalut pendekatan artistik yang lebih dekat dengan generasi muda.
Kolaborasi lintas komunitas pun terjalin. Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A), FASTANA–TDMRC USK, mahasiswa Magister Ilmu Kebencanaan (MIK), hingga alumni program pertukaran KMITL–USK, bersatu dalam satu panggung edukasi.
Pembacaan puisi oleh Denni Mulyani dan Ikrama Agung membuka suasana. Lalu suara paduan dari Mina Shafira, Raihana Ulfa, Nanda Perdana Wartin, Safiratun Nadia, Farras, Munadi, dan Ikmaldi Nabawi menyatu dalam irama yang menyentuh. Pesan yang disampaikan sederhana, tetapi kuat: kenali tanda alam, selamatkan diri, dan jangan abaikan peringatan.
Direktur Eksekutif GEN-A, dr. Imam Maulana, menegaskan bahwa pendekatan budaya memiliki kekuatan yang tak dimiliki metode edukasi konvensional.
“Nandong Smong bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi media edukasi yang hidup. Melalui budaya, pesan kesiapsiagaan lebih mudah diterima dan diingat, terutama oleh generasi muda,” ujarnya.
Bagi Imam, menggabungkan seni dan ilmu kebencanaan adalah strategi jangka panjang. Sebab, kesadaran risiko tidak cukup dibangun lewat data dan simulasi semata, tetapi juga melalui emosi dan ingatan kolektif.
“Tradisi seperti Smong telah terbukti menyelamatkan banyak nyawa. Tugas kita hari ini adalah menjaga dan mengemasnya agar tetap relevan,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Dr. Ir. Yunita Idris, pembina Panitia HKB USK. Ia menilai pendekatan berbasis kearifan lokal mampu menjangkau masyarakat lebih luas.
“Ketika pesan disampaikan melalui budaya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, pemahaman akan terbentuk lebih kuat dan berkelanjutan,” katanya.
Di sisi lain, Ketua Panitia HKB USK, Salwa Fitria Ibrahim, melihat seni sebagai pintu masuk edukasi yang efektif.
“Kami ingin masyarakat belajar tanpa merasa digurui. Melalui seni, pesan menjadi lebih membumi,” ujarnya.
Peringatan HKB 2026 di Banda Aceh sendiri melibatkan berbagai pihak, mulai dari BNPB, BPBA, BPBD, perguruan tinggi, hingga organisasi kemanusiaan seperti PMI dan Dompet Dhuafa. Kolaborasi ini mencerminkan upaya bersama dalam membangun masyarakat yang tangguh bencana.
Namun di antara berbagai kegiatan, penampilan Nandong Smong menjadi penanda penting: bahwa mitigasi bencana tidak selalu berbicara tentang teknologi canggih atau sistem peringatan dini. Kadang, ia hadir dalam bentuk sederhana—sebuah lagu, puisi, dan cerita yang diwariskan lintas generasi.
Di tengah keramaian CFD, pesan itu mengendap pelan di benak penonton. Bahwa suatu hari, ketika alam kembali memberi tanda, ingatan kolektif itulah yang bisa menjadi penyelamat.






