DONYAPOST, Meulaboh — Rektor Universitas Teuku Umar (UTU), Prof. Nyak Amir, meminta pendanaan Program Mahasiswa Berdampak Tahun Anggaran 2026 segera diwujudkan menjadi solusi nyata bagi masyarakat.
Ia menegaskan, capaian perguruan tinggi tidak cukup diukur dari peringkat nasional, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan warga.
“Capaian ini bukan sekadar peringkat nasional, melainkan tentang seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat. Dana ini harus segera terwujud dalam bentuk solusi nyata bagi warga desa sasaran,” kata Nyak Amir, Selasa (13/10/2026).
Pernyataan itu menyusul keberhasilan UTU menempati peringkat kedua nasional sebagai perguruan tinggi dengan pendanaan terbanyak dalam program tersebut. Sebanyak 10 tim dosen UTU memperoleh pendanaan untuk menjalankan program pengabdian kepada masyarakat di sejumlah wilayah Aceh.
Program-program tersebut menyasar persoalan nyata di masyarakat, mulai dari pemulihan ekonomi pascabencana, penyediaan air bersih, penanganan stunting, hingga pengembangan teknologi tepat guna. Kegiatan direncanakan berlangsung di Aceh Barat, Nagan Raya, dan Bener Meriah.
Menurut Nyak Amir, pendanaan tersebut harus menjadi penggerak bagi perguruan tinggi untuk menghadirkan kontribusi yang terukur. Karena itu, pelaksanaan program perlu berorientasi pada kebutuhan warga dan menghasilkan dampak langsung di lapangan.
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UTU, Ir. Yuliatul Muslimah, MP., mengatakan pihaknya akan mengawal pelaksanaan program agar kepakaran dosen dan keterlibatan mahasiswa dapat berjalan optimal.
“Kami bertugas memastikan integrasi antara kepakaran dosen dan energi mahasiswa berjalan optimal di lapangan. Seluruh program akan dikawal agar tepat sasaran dan berdampak langsung bagi penerima manfaat,” ujarnya.
Salah satu program yang disiapkan berkaitan dengan penyediaan air bersih di lokasi hunian sementara (huntara) Bintang Pepara serta pemulihan ekonomi petani kopi. Program ini diarahkan untuk membantu masyarakat menghadapi dampak bencana sekaligus mendukung pemulihan aktivitas ekonomi.
“Inovasi yang dikembangkan mahasiswa akan kami boyong langsung ke lokasi huntara Bintang Pepara untuk menyediakan air bersih dan memulihkan ekonomi petani kopi. Kami ingin kehadiran tim UTU benar-benar meringankan beban warga dan mempercepat pemulihan lokal,” kata Herri Darsan.
Penandatanganan kontrak pendanaan program tersebut berlangsung di Auditorium Graha Diktisaintek, Gedung D lantai 2, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026). Kegiatan diselenggarakan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta dihadiri jajaran LPPM UTU.
Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Pendidikan Tinggi, Kemdiktisaintek, Prof. apt. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D., mengatakan Program Mahasiswa Berdampak dirancang untuk mendorong perguruan tinggi melahirkan generasi muda yang peka terhadap persoalan sosial dan mampu bekerja sama mencari solusi.
“Program Mahasiswa Berdampak hadir untuk memastikan pendidikan tinggi menghasilkan insan muda yang memiliki kepekaan sosial, kepemimpinan, dan kemampuan berkolaborasi dalam menjawab persoalan nyata,” ujarnya.
Bagi UTU, pendanaan ini menjadi kesempatan untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap program terlaksana sesuai sasaran dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan warga.
