Indeks

UTU dan UNDP Buka Jalur Green Jobs untuk 600 Mahasiswa

Foto Utama - 1

DONYAPOST, Meulaboh — Sebanyak 600 mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) tidak hanya belajar tentang perubahan iklim. Mereka juga mulai disiapkan memasuki pasar kerja masa depan melalui pelatihan Green Jobs dan Inclusive Climate Action yang menyediakan jalur sertifikasi hingga inkubasi selama dua bulan.

Pelatihan tersebut digelar Unit Penunjang Akademik Pengembangan Karir dan Kewirausahaan (UPA PKK) UTU berkolaborasi dengan United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia melalui program Skill Our Future (SOF) di Auditorium Teuku Umar, Selasa (29/9/2026).

Kegiatan berlangsung sejak pagi hingga siang dan diikuti ratusan mahasiswa. Hadir pula Wakil Dekan Bidang Akademik FISIP UTU, Dr. Afrizal Tjoetra, M.Si., serta sejumlah dosen FISIP UTU.

Melalui program SOF, peserta tidak berhenti pada pelatihan tatap muka. Mahasiswa diarahkan membuat akun secara mandiri, mengikuti workshop daring bersertifikat, kemudian berkesempatan mengikuti program inkubasi bisnis dan pengembangan keterampilan selama dua bulan.

Kepala UPA PKK UTU, Dr. Muktaridha, M.Si., mengatakan skema tersebut dirancang untuk membuka akses nyata bagi mahasiswa terhadap peluang kerja yang berkaitan dengan ekonomi hijau.

“Pelatihan ini akan terus berlanjut. Mahasiswa yang sudah ikut diarahkan mendaftar ke laman resmi untuk membuat akun SOF, dilanjutkan dengan workshop online hingga mendapatkan sertifikat. Sertifikat tersebut menjadi tiket mereka untuk mengikuti inkubasi selama dua bulan,” kata Muktaridha.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UTU, H. Ibrahim Laweung, SKM., MNSc., yang hadir mewakili Rektor UTU, mengatakan penguatan kompetensi mahasiswa perlu berjalan beriringan dengan pendidikan akademik.

Menurutnya, perubahan kebutuhan dunia kerja berlangsung cepat sehingga lulusan perguruan tinggi harus memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan ekonomi dan jenis pekerjaan baru.

“Penguatan kompetensi mahasiswa harus berjalan beriringan dengan pendidikan akademik. Perubahan dunia kerja berlangsung cepat, dan lulusan kita dituntut lebih adaptif terhadap arah ekonomi baru,” ujar Ibrahim.

Pelatihan yang dipandu Kepala UPA Perpustakaan UTU, Yuhdi Fahrimal, M.I.Kom., tersebut menghadirkan tiga pemateri yang membahas hubungan antara perubahan iklim, pasar kerja, dan keadilan sosial.

Focal Point Youth Empowerment Initiative UNDP Indonesia, Randa Sandhita, menyampaikan materi From Climate Action to Green Jobs. Ia menjelaskan, green jobs dapat membuka lapangan kerja sekaligus mendukung pemulihan lingkungan melalui pemanfaatan energi terbarukan, efisiensi energi, dan pengurangan emisi.

Melalui inisiatif Youth Digitalization for Employability and Entrepreneurship Programme (YDEEP) atau SOF, UNDP mendorong mahasiswa memperoleh keterampilan digital dan pengalaman praktis yang dapat menjadi bekal memasuki dunia kerja maupun membangun usaha.

“Program SOF menjadi jembatan bagi mahasiswa yang ingin mengambil peluang ekonomi dari aksi iklim. Kami menghubungkan anak muda dengan keterampilan digital dan pengalaman praktis sebelum mereka masuk ke dunia kerja,” tutur Randa.

Sementara itu, Senior Gender Specialist NDC 2.0–UNDP, Zubaidah Djohar, menyoroti pentingnya aspek kesetaraan dan inklusi dalam transisi menuju ekonomi hijau.

Menurutnya, pencapaian target Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) membutuhkan sumber daya manusia terampil dari berbagai disiplin ilmu. Karena itu, transisi ekonomi hijau juga harus memperhatikan Gender Equality, Disability and Social Inclusion (GEDSI).

“Akses terhadap pelatihan, teknologi, pembiayaan, hingga ruang pengambilan keputusan harus dibuka adil bagi perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan. Dokumen perencanaan iklim tidak boleh berhenti di atas kertas, tapi harus berbuah aksi nyata yang dirasakan masyarakat,” tegas Zubaidah.

Dari perspektif akademik, dosen Prodi Ilmu Administrasi Negara FISIP UTU, Cut Asmaul Husna, MM., mengajak mahasiswa melihat perubahan iklim bukan hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai tantangan ekonomi yang memengaruhi produktivitas dan biaya usaha.

“Jangan hanya menjadi generasi yang menghadapi perubahan iklim. Jadilah generasi yang menciptakan pekerjaan dan solusi untuk menghadapinya,” tutur Cut Asmaul Husna.

Pelatihan tersebut sekaligus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan yang dijalankan UTU, khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 8 mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 5 tentang kesetaraan gender, serta SDG 13 terkait penanganan perubahan iklim. []

Exit mobile version