DONYAPOST, Banda Aceh — Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh mewacanakan turnamen terbuka bola voli memperebutkan Piala Gubernur Aceh. Kejuaraan tersebut dirancang tidak hanya melibatkan klub-klub Aceh, tetapi juga tim dari luar daerah.
Ketua Umum KONI Aceh Saiful Bahri atau Pon Yaya mengatakan turnamen tersebut diharapkan menjadi event besar yang mampu kembali mengangkat bola voli sebagai salah satu olahraga favorit masyarakat Aceh.
“Kita berharap turnamen itu nantinya bukan hanya diikuti klub voli di Aceh, namun juga akan melibatkan klub-klub voli di luar Aceh, sehingga benar-benar menjadi tontonan menarik bagi bola voli mania di Aceh,” kata Pon Yaya, Kamis (10/9/2026) malam.
Wacana tersebut disampaikan Pon Yaya dalam pertemuan informal jajaran KONI Aceh bersama sejumlah mitra di kawasan Cot Iri, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar.
Menurut Pon Yaya, turnamen tersebut tidak sekadar menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang kompetisi bagi atlet voli Aceh untuk meningkatkan kemampuan menghadapi agenda olahraga nasional.
“Event ini akan menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat bola voli yang menginginkan adanya sebuah turnamen berkelas dengan menampilkan atlet-atlet andal. Ini juga ajang untuk berbagi pengalaman dan pembelajaran bagi atlet voli Aceh, menjelang Pra PON hingga PON 2028 NTB/NTT,” ujarnya.
Piala Gubernur Aceh direncanakan memperebutkan piala bergilir dan menjadi agenda tahunan. KONI Aceh berharap kompetisi tersebut dapat menjadi wadah pembinaan sekaligus mengasah kemampuan atlet menuju level profesional.
“Kita upayakan agar kejuaraan ini menjadi kalender event tahunan, sehingga benar-benar menjadi wahana untuk menempa sekaligus kawah candradimuka untuk atlet Aceh,” kata Pon Yaya.
Selain aspek olahraga, Pon Yaya menyebut kehadiran klub dari luar Aceh berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Pergerakan tim dan penonton dinilai dapat ikut menggerakkan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perhotelan serta pariwisata.
KONI Aceh menargetkan turnamen tersebut dapat digelar pada penghujung 2026.
Plt Sekda Aceh Taufik yang hadir dalam pertemuan tersebut menyatakan mendukung wacana penyelenggaraan turnamen voli Piala Gubernur Aceh.
Namun, dukungan tersebut masih perlu dibahas bersama jajaran Pemerintah Aceh dan pihak terkait, terutama menyangkut dukungan anggaran.
“Kami sangat setuju dengan wacana tersebut. Tentu saja harus dibicarakan lebih dulu dengan jajaran stakeholder terkait di Pemerintah Aceh, termasuk mengkaji peluang terkait anggaran,” kata Taufik.
Ia juga menyatakan terbuka terhadap kemungkinan turnamen tersebut digelar pada akhir tahun ini jika seluruh persiapan dan dukungan yang dibutuhkan memungkinkan.
Dalam konsep awal, KONI Aceh akan menjadi inisiator sekaligus motor penyelenggaraan, sedangkan Pemerintah Aceh diharapkan memberikan dukungan pendanaan.
Panitia nantinya juga direncanakan melibatkan unsur yang memiliki kompetensi di cabang olahraga voli, mulai dari mantan atlet, pegiat voli hingga legenda voli Aceh.
Pelibatan insan voli tersebut diharapkan sekaligus menjadikan Piala Gubernur sebagai ruang silaturahmi dan reuni bagi pelaku bola voli Aceh.
Wacana turnamen tersebut mendapat respons dari Ngoh Azwar, mantan pemain voli sekaligus pemilik klub Pamber Beurawe Banda Aceh.
Ia berharap rencana tersebut benar-benar terealisasi karena kompetisi dengan skala dan konsep seperti itu dinilai dibutuhkan untuk menghidupkan kembali atmosfer bola voli Aceh.
“Kami sangat mendukung dan berharap agar event ini terwujud, karena akan menjadi oase di padang pasir bagi kami insan voli di Aceh, yang kini kondisinya sedang tak baik-baik saja,” ujar Azwar.
Selain klub dan atlet, penyelenggaraan turnamen juga akan melibatkan perangkat pertandingan, termasuk wasit serta tenaga kompeten lainnya di bidang bola voli.
Jika terealisasi, Piala Gubernur Aceh akan diarahkan menjadi kompetisi terbuka yang tidak hanya mengejar tontonan, tetapi juga menjadi bagian dari pembinaan atlet dan penguatan ekosistem bola voli Aceh. []
