Indeks

UIN Ar-Raniry Wakili Indonesia Belajar Pendidikan Inklusif di Jepang

Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prof Dr Mujiburrahman MAg (tengah) bersama dua perwakilan UIN Ar-Raniry yang lolos program KRISAN Fellowship 2026 di ruang kerja Rektor UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Rabu (22/7/2026).

DONYAPOST, Banda Aceh — UIN Ar-Raniry terpilih sebagai satu dari lima perguruan tinggi terbaik di Indonesia yang mengikuti program tersebut setelah melewati proses seleksi ketat yang diikuti lebih dari 100 perguruan tinggi dari berbagai daerah.

Dua perwakilan UIN Ar-Raniry yang akan mengikuti program tersebut adalah Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) Harri Santoso, S.Psi., M.Ed. dan Koordinator Pusat Studi Gender dan Anak LP2M UIN Ar-Raniry, Dr. Nashriyah, M.A.

Program KRISAN Fellowship diselenggarakan oleh Pijar Foundation dengan dukungan The Nippon Foundation serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.

Seleksi peserta didasarkan pada partisipasi dalam Online Executive Workshop, kesiapan kelembagaan perguruan tinggi, serta kualitas proposal action plan yang diajukan untuk penguatan layanan disabilitas.

Melalui Fellowship to Japan 2026, kedua delegasi UIN Ar-Raniry akan mempelajari secara langsung sistem layanan disabilitas dan praktik pendidikan tinggi inklusif di Jepang.

Program tersebut dijadwalkan berlangsung pada 22–30 Agustus 2026 di Tokyo dan Kyoto. Selama berada di Jepang, peserta akan mengunjungi sejumlah institusi terkemuka, di antaranya The Nippon Foundation Office, University of Tsukuba, dan Kyoto University.

Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag., mengatakan keikutsertaan kampusnya dalam program internasional tersebut merupakan momentum penting untuk memperkuat komitmen menghadirkan pendidikan yang inklusif bagi seluruh mahasiswa.

“Pendidikan tidak boleh hanya berbicara tentang siapa yang mampu mengaksesnya. Pendidikan juga harus memastikan bahwa setiap orang yang telah berada di dalamnya dapat belajar, tumbuh, dan berkembang tanpa terhalang oleh hambatan yang sebenarnya dapat kita hilangkan,” kata Mujiburrahman.

Menurutnya, pendidikan inklusif tidak hanya berkaitan dengan penyediaan fasilitas, tetapi merupakan tanggung jawab perguruan tinggi dalam menjamin setiap warga negara memperoleh hak pendidikan secara setara.

“Ketika sebuah kampus membangun lingkungan yang inklusif, sesungguhnya kampus itu sedang membangun peradaban yang lebih manusiawi. Karena ukuran kemajuan pendidikan bukan hanya seberapa tinggi ilmu yang dihasilkan, tetapi juga seberapa luas kesempatan yang dibuka,” ujarnya.

Mujiburrahman berharap seluruh pengalaman yang diperoleh selama mengikuti KRISAN Fellowship dapat diterapkan dalam pengembangan kebijakan kampus.

“Belajar ke Jepang bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah membawa pulang pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik untuk kemudian kita adaptasi sesuai dengan kebutuhan UIN Ar-Raniry,” katanya.

Sebelum diberangkatkan ke Jepang, seluruh peserta mengikuti Online Executive Workshop pada 7–16 Juli 2026 bersama fasilitator dari Indonesia dan Jepang. Dalam kegiatan tersebut peserta mempelajari konsep inclusive higher education dan social model of disability, sekaligus menyusun proposal rencana aksi untuk penguatan layanan disabilitas di kampus masing-masing.

Tidak hanya itu, UIN Ar-Raniry juga dinyatakan lolos ke tahap lanjutan Disability Equality Training (DET) yang akan digelar di Jakarta pada 5–6 Agustus 2026.

Pelatihan partisipatif tersebut bertujuan memperkuat pemahaman mengenai isu disabilitas sekaligus mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas.

Usai mengikuti pelatihan dan kunjungan pembelajaran di Jepang, peserta akan menjalani proses pendampingan (mentoring) serta implementasi action plan mulai September hingga Desember 2026.

Melalui program tersebut, UIN Ar-Raniry akan memperkuat tata kelola Unit Layanan Disabilitas, meningkatkan aksesibilitas fasilitas kampus, memperluas layanan pendampingan bagi mahasiswa penyandang disabilitas, serta membangun lingkungan akademik yang semakin inklusif dan berkelanjutan.

Exit mobile version