DONYAPOST, Aceh — Delapan tim tersisa, empat tiket semifinal, dan tak ada lagi ruang untuk kesalahan. Babak perempat final Piala Dunia 2026 menyuguhkan rangkaian laga berkelas yang mempertemukan juara dunia, kuda hitam, serta generasi baru yang siap mengubah peta kekuatan sepak bola internasional.
1. Prancis vs Maroko (10 Juli, 03.00 WIB)
Laga ulangan semifinal Piala Dunia 2022 ini diprediksi kembali berlangsung ketat. Prancis datang sebagai satu-satunya tim yang menyapu bersih lima kemenangan di Piala Dunia 2026 tanpa harus melalui babak tambahan waktu.
Produktivitas Les Bleus juga sangat mengesankan dengan koleksi 14 gol, sejajar dengan Argentina sebagai tim tersubur di turnamen. Ketajaman Kylian Mbappe yang telah mengemas tujuh gol menjadi ancaman utama bagi lini belakang Maroko.
Di sisi lain, Maroko kembali membuktikan diri sebagai kekuatan baru sepak bola Afrika. Setelah mencatat sejarah sebagai tim Afrika pertama yang menembus semifinal pada 2022, kini Atlas Lions menjadi negara Afrika pertama yang dua kali beruntun mencapai perempat final Piala Dunia.
Mereka tampil disiplin, efektif, dan memiliki transisi menyerang yang cepat melalui Achraf Hakimi, Azzedine Ounahi, hingga Yassine Bounou yang tetap menjadi benteng kokoh di bawah mistar.
Kunci pertandingan akan berada pada duel lini tengah. Jika Prancis mampu menguasai tempo melalui Eduardo Camavinga dan Aurelien Tchouameni, peluang mereka untuk mengisolasi lini pertahanan Maroko akan semakin besar.
Sebaliknya, Maroko harus mampu memperlambat ritme permainan Prancis dan memanfaatkan serangan balik cepat yang selama ini menjadi senjata utama mereka.
Secara kualitas individu dan kedalaman skuad, Prancis masih lebih unggul. Namun pengalaman Maroko dalam menghadapi tim-tim besar membuat laga ini diperkirakan berlangsung sengit hingga menit-menit akhir.
Bila Les Bleus gagal mencetak gol lebih awal, peluang kejutan dari wakil Afrika itu tetap terbuka.
2. Spanyol vs Belgia (11 Juli, 02.00 WIB)
Pertandingan ini mempertemukan dua tim yang tampil paling konsisten sepanjang turnamen. Spanyol datang dengan catatan luar biasa karena belum sekali pun kebobolan dalam lima pertandingan.
Solidnya pertahanan yang dikawal Unai Simon menjadi fondasi utama keberhasilan La Roja, sementara kreativitas Lamine Yamal dan Pedri membuat lini serang mereka tetap berbahaya meski tidak terlalu produktif.
Belgia justru tampil dengan karakter berbeda. Mereka mengandalkan efektivitas serangan dan telah mencetak 13 gol, hanya terpaut satu gol dari Prancis dan Argentina.
Romelu Lukaku kembali menjadi ujung tombak yang tajam, didukung Charles De Ketelaere, Jeremy Doku, dan Kevin De Bruyne yang mampu menciptakan peluang dari berbagai situasi. Di bawah mistar, pengalaman Thibaut Courtois juga menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan permainan Belgia.
Laga ini akan menjadi pertarungan antara pertahanan terbaik melawan salah satu lini serang paling produktif. Spanyol kemungkinan tetap mengandalkan penguasaan bola tinggi untuk mengendalikan tempo, sedangkan Belgia akan lebih nyaman menyerang melalui transisi cepat dan memanfaatkan ruang di belakang garis pertahanan lawan.
Duel individual antara Lamine Yamal dan Courtois bisa menjadi penentu. Jika Courtois mampu menggagalkan peluang-peluang emas Spanyol, Belgia memiliki kesempatan mencuri kemenangan melalui serangan balik.
Sebaliknya, apabila Spanyol mampu mempertahankan organisasi pertahanannya yang belum sekalipun ditembus lawan, peluang mereka menuju semifinal akan semakin besar.
Pertandingan ini diprediksi menjadi salah satu laga paling seimbang di babak perempat final.
3. Norwegia vs Inggris (12 Juli, 04.00 WIB)
Norwegia menjadi kisah paling mengejutkan di Piala Dunia 2026. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, mereka berhasil menembus babak perempat final setelah secara dramatis menyingkirkan Brasil. Erling Haaland tampil luar biasa dengan tujuh gol, sementara Martin Odegaard menjadi pengatur serangan yang membuat permainan Norwegia semakin matang.
Inggris sendiri datang dengan kepercayaan diri tinggi usai melewati dua laga gugur yang penuh drama. Harry Kane telah mengoleksi enam gol, sedangkan Jude Bellingham tampil sebagai motor permainan sekaligus pencetak gol penting.
Di bawah Thomas Tuchel, Three Lions terlihat lebih fleksibel dalam menyerang, meski masih menyisakan beberapa kelemahan di lini belakang.
Pertemuan ini akan memperlihatkan duel dua penyerang paling tajam di Eropa, yakni Haaland dan Kane. Keduanya sama-sama menjadi tumpuan utama negaranya dan memiliki kemampuan menyelesaikan peluang dengan sangat efektif.
Selain itu, duel Odegaard melawan Declan Rice di lini tengah akan sangat menentukan arah permainan.
Norwegia diperkirakan tidak akan bermain terlalu terbuka. Mereka kemungkinan menunggu momentum untuk melancarkan serangan cepat melalui Haaland yang sangat berbahaya ketika mendapatkan ruang.
Sebaliknya, Inggris akan mencoba menguasai bola lebih lama sembari memanfaatkan kreativitas Bellingham di belakang Kane.
Secara pengalaman di turnamen besar, Inggris jauh lebih unggul. Namun performa Norwegia sejauh ini membuktikan mereka bukan sekadar tim kejutan. Jika Inggris gagal meredam Haaland sejak awal pertandingan, peluang Norwegia mencatat sejarah baru dengan lolos ke semifinal tetap sangat realistis.
4. Argentina vs Swiss (12 Juli, 08.00 WIB)
Argentina masih menjadi salah satu kandidat terkuat juara dunia. Lionel Messi kembali menunjukkan kelasnya dengan memimpin daftar pencetak gol sementara melalui delapan gol.
Bersama Julian Alvarez dan lini tengah yang semakin solid, Albiceleste tampil tajam dengan total 14 gol sepanjang turnamen.
Meski demikian, perjalanan Argentina menuju delapan besar tidak sepenuhnya mulus. Mereka sempat dipaksa bermain hingga babak tambahan saat menghadapi Cabo Verde dan harus bekerja keras mengalahkan Mesir pada babak 16 besar.
Hal itu menunjukkan Argentina masih memiliki celah, terutama ketika menghadapi lawan yang bermain disiplin.
Swiss justru hadir sebagai salah satu tim paling konsisten. Juara Grup B itu hanya kebobolan tiga gol hingga perempat final dan mengandalkan organisasi pertahanan yang sangat rapi.
Mereka tidak memiliki banyak bintang besar, tetapi kolektivitas permainan menjadi kekuatan utama tim asuhan Murat Yakin.
Laga ini juga mengingatkan pada babak 16 besar Piala Dunia 2014 ketika Argentina menang tipis 1-0 lewat gol Angel Di Maria setelah assist brilian Messi di babak tambahan waktu.
Swiss tentu berharap dapat membalas kekalahan tersebut dengan pendekatan yang serupa, yakni bertahan rapat dan memanfaatkan serangan balik.
Argentina diprediksi akan mendominasi penguasaan bola sejak menit pertama. Namun mereka harus berhati-hati terhadap disiplin pertahanan Swiss yang terkenal sulit ditembus.
Apabila Messi kembali menemukan ruang untuk berkreasi, peluang Argentina melangkah ke semifinal sangat besar. Namun bila Swiss mampu memaksa pertandingan berlangsung lambat hingga babak tambahan, tekanan justru akan berpindah kepada sang juara bertahan.
