DONYAPOST, Banda Aceh – Pengurus Provinsi (Pengprov) Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI) Aceh mulai memanaskan mesin organisasi setelah terbentuknya kepengurusan periode 2026–2030.
Melalui agenda Kopi Darat yang digelar di Tower Kupi Simpang Limong, Banda Aceh, Sabtu (27/6/2026), pengurus, pelatih, dan atlet menyatakan komitmen bersama mempertahankan tradisi prestasi menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 NTB–NTT.
Ketua Umum Pengprov PABSI Aceh, H.T. Rayuan Sukma S.Sos, mengatakan konsolidasi tersebut menjadi langkah awal memperkuat soliditas organisasi sekaligus menyusun strategi pembinaan atlet agar angkat besi Aceh tetap menjadi salah satu cabang olahraga andalan di tingkat nasional.
“Kita adalah keluarga besar yang selalu bersama dalam suka maupun duka. Saya bangga karena PABSI Aceh hingga hari ini dikenal sebagai salah satu organisasi olahraga yang paling solid di Aceh,” ujar Rayuan, didampingi Ketua Harian Kompol Marzuki dan Sekretaris Umum Efendi Eria.
Rayuan yang telah memimpin organisasi ini selama sekitar 16 tahun menjelaskan, angkat besi merupakan satu-satunya cabang olahraga yang secara konsisten menyumbangkan medali emas bagi Aceh di ajang PON sejak era Tarso dan Yudi hingga lahirnya generasi baru seperti Nurul Amal dan M. Zul Ilmi.
Menurutnya, PABSI Aceh juga berhasil mengakhiri penantian panjang selama 35 tahun atlet Aceh tampil di Olimpiade setelah era atlet anggar Alkindi. Prestasi tersebut ditorehkan Nurul Amal yang bahkan menjadi atlet Aceh pertama yang tampil pada dua Olimpiade secara berturut-turut membela Indonesia.
“PABSI Aceh juga menjadi organisasi yang berhasil melahirkan atlet Olimpiade secara berkesinambungan. Itu menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi generasi berikutnya,” katanya.
Berbagai prestasi tersebut turut mendorong pembangunan Balee Seuramoe Angkat Besi Aceh, yang kini menjadi pusat latihan sekaligus kantor PABSI Aceh dan disebut sebagai salah satu fasilitas angkat besi termegah di Asia Tenggara. Bahkan, Pengurus Besar PABSI pernah mengusulkan agar pemusatan latihan nasional dilaksanakan di Aceh.
Menghadapi PON 2028 di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, Rayuan optimistis tradisi juara masih dapat dipertahankan. Ia mengingatkan bahwa pada PON XXI Aceh-Sumut 2024, angkat besi Aceh sukses menjadi juara umum dengan raihan empat medali emas dan dua perak.
Untuk PON mendatang, PABSI Aceh memproyeksikan sedikitnya dua medali emas apabila sistem penilaian masih menggunakan regulasi lama. Namun apabila diterapkan regulasi baru dengan perhitungan medali berdasarkan setiap jenis angkatan, peluang Aceh diperkirakan meningkat hingga enam medali emas.
Optimisme tersebut mendapat dukungan penuh dari seluruh jajaran pengurus yang hadir. Mereka berkomitmen menjalankan tugas sesuai bidang masing-masing demi menjaga prestasi angkat besi Aceh, baik di level nasional maupun internasional.
Saat ini, setelah era Nurul Amal, sejumlah atlet angkat besi Aceh juga masih memperkuat pemusatan latihan nasional sebagai persiapan menghadapi berbagai kejuaraan regional dan internasional, sekaligus menjadi modal penting mempertahankan tradisi prestasi Aceh di masa mendatang.






