DONYAPOST, Banda Aceh – Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh dan Baitul Mal Kabupaten Simeulue menandatangani Perjanjian Kerja Sama (Memorandum of Agreement/MoA) Program Beasiswa Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) bagi mahasiswa miskin asal Kabupaten Simeulue, Kamis (25/6/2026).
Penandatanganan kerja sama berlangsung di ruang kerja Rektor UIN Ar-Raniry dan dilakukan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Ar-Raniry, Prof Dr Mursyid MHI, bersama Ketua Baitul Mal Kabupaten Simeulue, Supriadi.
Prosesi tersebut turut disaksikan Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Mujiburrahman MAg, serta Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama (AAKK) UIN Ar-Raniry, Dr H Iqbal SAg MAg.
Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Mujiburrahman, mengapresiasi program SKSS yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Simeulue melalui Baitul Mal. Menurutnya, program tersebut merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia daerah melalui investasi pendidikan.
“Ini merupakan program yang cerdas dari Pemerintah Kabupaten Simeulue yang diinisiasi oleh Baitul Mal Simeulue. Investasi pada pendidikan tidak akan pernah rugi,” ujar Mujiburrahman.
Ia menegaskan bahwa kemajuan Aceh pada masa depan sangat bergantung pada dua aspek utama, yakni pengembangan keagamaan dan pendidikan.
“Di berbagai kesempatan saya selalu menyampaikan bahwa Aceh akan maju apabila dua hal ini diperhatikan dengan baik, yaitu pengembangan keagamaan dan pengembangan pendidikan. Jika keduanya terbangun dengan baik, Aceh akan maju,” katanya.
Menurut Mujiburrahman, investasi pada sumber daya manusia akan memberikan dampak jangka panjang bagi pembangunan daerah. Lulusan perguruan tinggi asal Simeulue, kata dia, tetap dapat berkontribusi bagi daerahnya meski berkarier di luar wilayah tersebut.
“Mereka akan memikirkan pengembangan daerahnya. Walaupun tidak pulang ke kampung halaman, jejaring yang mereka miliki tetap bisa membantu pembangunan daerah dan peningkatan kualitas SDM,” ujarnya.
Ia berharap Program Satu Keluarga Satu Sarjana dapat menjadi model bagi kabupaten dan kota lain di Aceh dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat kurang mampu.
“Saya kira ini bisa menjadi pilot project bagi daerah lain. Dalam tiga hingga lima tahun ke depan, program ini dapat menjadi contoh sehingga perlu terus dilanjutkan dan dievaluasi secara berkala,” katanya.
Mujiburrahman menambahkan, UIN Ar-Raniry terus berkomitmen mendukung mahasiswa melalui berbagai skema bantuan pendidikan, termasuk Beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, Beasiswa Bank Indonesia, serta program bantuan dari berbagai mitra.
“Kami akan memfasilitasi anak-anak Simeulue agar dapat menempuh pendidikan dengan baik dan nantinya memberi manfaat bagi pemerintah daerah maupun masyarakat Simeulue,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Baitul Mal Kabupaten Simeulue, Supriadi, menjelaskan bahwa Program Satu Keluarga Satu Sarjana merupakan bagian dari visi pembangunan “Simeulue Cerdas” yang diusung pemerintah daerah.
Menurutnya, dana zakat dan infak yang selama ini lebih banyak digunakan untuk kebutuhan konsumtif kini diarahkan menjadi investasi produktif melalui pembiayaan pendidikan tinggi bagi masyarakat miskin.
“Dana umat yang sebelumnya lebih bersifat konsumtif kami ubah menjadi produktif, sehingga dapat dimanfaatkan untuk melahirkan dokter, guru, birokrat, dan berbagai profesi lainnya dari anak-anak Simeulue,” kata Supriadi.
Ia menyebutkan, program tersebut diperkuat melalui Peraturan Bupati Simeulue Nomor 1 Tahun 2026 tentang Pedoman Pemberian Bantuan Beasiswa Satu Keluarga Satu Sarjana bagi Mahasiswa Miskin yang Bersumber dari Dana Zakat dan Infak pada Baitul Mal Kabupaten Simeulue.
“Program ini menjadi bagian dari visi dan misi pemerintah daerah untuk mewujudkan Simeulue yang cerdas dan berdaya saing melalui peningkatan kualitas pendidikan masyarakat,” ujarnya.
Melalui kerja sama tersebut, UIN Ar-Raniry dan Baitul Mal Simeulue berharap semakin banyak generasi muda dari keluarga kurang mampu di Simeulue yang memperoleh kesempatan menempuh pendidikan tinggi dan menjadi motor penggerak pembangunan daerah di masa depan.
