Indeks
Berita  

HUDA Ajak Masyarakat Jaga Adab Saat Kritik Pemimpin dan Ulama di Media Sosial

DONYAPOST, Banda Aceh — Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh (PB HUDA) mengajak masyarakat untuk menjaga etika dalam menyampaikan kritik di ruang publik serta menghindari budaya caci maki, fitnah, ujaran kebencian, dan serangan terhadap kehormatan orang lain yang semakin marak terjadi di media sosial.

Ketua Umum PB HUDA, Tgk. Dr. H. Anwar Usman, M.M. atau yang akrab disapa Abiya Kuta Krueng, kepada media, Minggu (21/6/2026) menegaskan, Islam mengajarkan kebebasan menyampaikan pendHUDAapat.

Namun kebebasan tersebut harus dijalankan dengan adab, tanggung jawab moral, dan penghormatan terhadap martabat sesama manusia.

Menurut putra almarhum ulama kharismatik Aceh Abu Kuta Krueng itu, dalam beberapa waktu terakhir ruang digital dipenuhi berbagai komentar yang tidak lagi bersifat konstruktif, melainkan berubah menjadi cacian, hinaan, fitnah, dan serangan pribadi terhadap ulama, pemimpin, maupun pihak-pihak yang memiliki pandangan berbeda.

“Kritik adalah bagian penting dari kehidupan demokrasi dan bahkan menjadi salah satu instrumen untuk memperbaiki jalannya pemerintahan. Namun kritik harus disampaikan secara santun, objektif, berdasarkan fakta, dan tidak berubah menjadi penghinaan terhadap pribadi seseorang,” ujar Abiya Kuta Krueng.

Meski demikian, PB HUDA juga mengingatkan, pemerintah di semua tingkatan perlu membuka ruang komunikasi yang lebih luas serta mendengar berbagai aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat.

Menurutnya, berbagai tuntutan yang disampaikan masyarakat, mahasiswa, akademisi, maupun kelompok sipil dalam berbagai forum dan aksi penyampaian pendapat pada dasarnya lahir dari kepedulian terhadap masa depan bangsa dan negara.

“Di satu sisi masyarakat harus menjaga adab dalam menyampaikan kritik. Namun di sisi lain, pemerintah juga perlu mendengar suara rakyat dengan hati yang terbuka.”

“Aspirasi yang disampaikan masyarakat dan mahasiswa hendaknya dipandang sebagai bentuk kepedulian terhadap bangsa, bukan semata-mata sebagai tekanan atau perlawanan,” katanya.

Abiya menjelaskan, dalam ajaran Islam, pemimpin memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi, mengayomi, melayani, dan memperjuangkan kemaslahatan rakyat.

Karena itu, komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat harus terus dibangun agar berbagai persoalan bangsa dapat diselesaikan secara bijaksana dan bermartabat.

PB HUDA menilai bangsa Indonesia saat ini membutuhkan suasana yang kondusif, dialog yang sehat, serta semangat saling menghormati. Polarisasi yang berlebihan dan budaya saling menyerang dinilai hanya akan memperlebar jarak antara masyarakat dan pemerintah serta berpotensi mengganggu persatuan nasional.

Selain itu, PB HUDA juga menyampaikan keprihatinan terhadap munculnya berbagai konten di media sosial yang mengarah pada penghinaan terhadap ulama di Aceh.

Menurut Abiya Kuta Krueng, fenomena tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena ulama memiliki posisi penting dalam membimbing umat, menjaga akidah, serta membangun kehidupan sosial dan moral masyarakat.

“Perbedaan pandangan dengan ulama tentu boleh saja terjadi. Namun jangan sampai berubah menjadi kebencian, fitnah, atau caci maki. Dalam tradisi Islam dan budaya bangsa Indonesia, para ulama merupakan pewaris tugas para nabi yang harus dihormati meskipun pandangan mereka terkadang berbeda dengan sebagian masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, sejarah bangsa Indonesia menunjukkan besarnya kontribusi ulama dalam perjuangan kemerdekaan, pendidikan, dakwah, perdamaian, hingga pembangunan karakter bangsa.

Karena itu, menjaga kehormatan ulama merupakan bagian dari menjaga marwah agama dan warisan kebangsaan yang telah dibangun para pendahulu.

Abiya juga mengingatkan, setiap ucapan dan tulisan yang dipublikasikan di media sosial akan dimintai pertanggungjawaban, baik secara hukum maupun di hadapan Allah SWT.

“Jangan sampai media sosial menjadi tempat melampiaskan kemarahan dan kebencian. Gunakanlah media sosial sebagai sarana menyampaikan gagasan, kritik yang membangun, ilmu pengetahuan, dan solusi bagi berbagai persoalan bangsa. Bangsa kita saat ini membutuhkan persatuan, bukan permusuhan; membutuhkan dialog, bukan saling menjatuhkan,” tegasnya.

PB HUDA mengajak seluruh elemen bangsa, baik pemerintah maupun masyarakat, untuk sama-sama mengedepankan semangat musyawarah, saling menghormati, dan mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi bangsa.

Dengan demikian, kritik tetap hidup sebagai bagian dari demokrasi, namun adab, persatuan, dan kepentingan nasional tetap terjaga.

“Mari kita jaga lisan dan tulisan kita. Kritiklah dengan santun, dengarkanlah dengan bijak, dan carilah jalan tengah demi kemaslahatan rakyat, bangsa, dan negara. Persatuan adalah modal utama untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan,” pungkas Abiya Kuta Krueng

Exit mobile version