DONYAPOST, Banda Aceh — Ketika sebagian besar mahasiswa menutup perjalanan akademiknya dengan menyusun skripsi, Urwatil Wusqa memilih jalan yang berbeda.
Mahasiswi Program Studi Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry Banda Aceh itu menyelesaikan studinya melalui publikasi artikel ilmiah.
Pilihan yang terbilang tidak lazim tersebut justru mengantarkannya menjadi lulusan terbaik pada Yudisium Gelombang I Tahun Akademik 2025/2026 yang digelar Kamis (11/6/2026).
Wusqa berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,94 dengan predikat cum laude dan menuntaskan pendidikan sarjananya dalam waktu 3,5 tahun.
Perempuan kelahiran Aceh Besar, 18 Oktober 2004 itu mengaku keputusan memilih jalur publikasi ilmiah telah direncanakannya sejak jauh sebelum memasuki semester akhir.
Ia terinspirasi dari pengalaman mahasiswa di berbagai perguruan tinggi yang berhasil menyelesaikan studi melalui konversi artikel ilmiah.
“Awalnya saya sering melihat mahasiswa dari berbagai kampus di luar daerah yang berhasil lulus melalui konversi jurnal ilmiah. Dari situ saya tertantang. Saya berpikir, kalau mereka bisa, saya juga harus bisa menerapkan hal yang sama pada diri saya,” ujarnya.
Bagi Wusqa, publikasi ilmiah bukan sekadar alternatif pengganti skripsi. Ia memandang jalur tersebut sebagai bentuk kontribusi akademik yang lebih luas karena hasil penelitian dapat diakses dan dimanfaatkan oleh masyarakat ilmiah dari berbagai negara.
Menurutnya, hasil riset mahasiswa seharusnya tidak berhenti sebagai dokumen yang tersimpan di perpustakaan kampus. Melalui artikel ilmiah, temuan penelitian dapat dibaca, dikaji, dan dikembangkan lebih lanjut oleh mahasiswa, dosen, maupun peneliti lainnya.
“Artikel ilmiah lebih ringkas, padat, dan langsung menyentuh substansi persoalan. Format seperti ini lebih mudah diakses dan memiliki peluang lebih besar untuk memberikan manfaat bagi banyak orang,” katanya.
Selain menjadi sarana berbagi pengetahuan, publikasi ilmiah juga dipersiapkannya sebagai modal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Wusqa berencana melanjutkan studi magister dan menilai pengalaman menulis serta menerbitkan artikel ilmiah menjadi nilai tambah dalam persaingan memperoleh beasiswa.
Meski menyandang predikat lulusan terbaik, Wusqa menegaskan bahwa capaian tersebut bukanlah tujuan utama selama menjalani perkuliahan.
“Target menjadi lulusan terbaik memang sudah ada sejak awal masuk Fakultas Adab dan Humaniora. Namun bagi saya, itu hanya bonus. Fokus utama saya adalah memahami ilmu yang diajarkan dosen secara maksimal,” ujarnya.
Prinsip itu terus dipegang sejak semester pertama. Ia tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga berusaha memperdalam pemahaman terhadap kajian sejarah dan kebudayaan yang menjadi bidang keilmuannya.
Di luar ruang kuliah, Wusqa dikenal aktif dalam berbagai kegiatan. Ia mengajar di Dayah Al-Azhar, menjadi tutor privat, terlibat sebagai reporter dan host Ar-Raniry TV, serta aktif mengikuti berbagai kegiatan sosial dan pengabdian masyarakat.
Ketertarikannya pada dunia sejarah dan pelestarian budaya juga membawanya menjalani program magang di Museum Negeri Aceh. Pengalaman tersebut kemudian semakin diperkaya melalui partisipasinya dalam Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Internasional di Malaysia dan Thailand.
Aktivitas organisasinya pun cukup padat. Wusqa tercatat sebagai anggota Public Relation Duta Gender UIN Ar-Raniry, Wakil Sekretaris Umum Pengurus Besar Ikatan Mahasiswa Alumni Dayah Aceh (PB-IMADA), Ketua Divisi Ilmu Kebudayaan DEMA FAH, serta anggota Senat Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora.
Di tengah berbagai aktivitas tersebut, ia tetap mampu mempertahankan prestasi akademik hingga akhirnya meraih predikat lulusan terbaik fakultas.
“Pencapaian ini sejatinya adalah hadiah dari proses panjang, konsistensi belajar, dan kerja keras yang saya pupuk di setiap semester,” katanya.
Menurut Wusqa, keberhasilan yang diraihnya tidak lepas dari nilai-nilai yang ditanamkan keluarga sejak kecil. Putri pasangan Salman Alvarisy dan Nilawati itu mengaku selalu mengingat pesan orang tuanya tentang pentingnya pendidikan.
“Ayah saya selalu mengatakan bahwa warisan paling berharga yang bisa diberikan orang tua bukanlah harta, melainkan pendidikan dan ilmu pengetahuan,” tuturnya.
Pesan tersebut menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan akademik, termasuk untuk tetap menjaga nilai-nilai agama dalam proses menuntut ilmu.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Wusqa berencana melanjutkan studi magister dengan fokus pada bidang antropologi atau permuseuman. Ketertarikannya terhadap sejarah, budaya, dan pelestarian warisan masa lalu menjadi alasan utama memilih bidang tersebut.
Saat ini, ia tengah mempersiapkan berbagai persyaratan untuk melanjutkan studi melalui program beasiswa. Dalam jangka panjang, ia bercita-cita menjadi akademisi yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui ilmu pengetahuan.
Kepada mahasiswa lainnya, Wusqa berpesan agar memanfaatkan masa kuliah sebaik mungkin dan tidak menyia-nyiakan pengorbanan orang tua.
“Jangan pernah meremehkan ruang kelas. Dari ruang-ruang kelas yang sederhana dan diskusi-diskusi kecil itulah benih-benih cendekiawan masa depan lahir. Manfaatkan masa kuliah bukan sekadar untuk mengejar gelar, tetapi untuk menempa diri menjadi manusia yang bermanfaat,” ujarnya.
Pada Yudisium Gelombang I dan II Tahun Akademik 2025/2026, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry meyudisium sebanyak 142 lulusan sarjana.
Sebanyak 27 lulusan meraih predikat cum laude, 63 lulusan predikat pujian, 51 lulusan predikat sangat baik, dan satu lulusan predikat baik.
