Indeks
Berita  

Mahasiswa Agribisnis USK Belajar Langsung ke Panglima Laot

DONYAPOST, Aceh Besar — Puluhan mahasiswa Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) mengikuti kuliah lapangan di Kantor Lembaga Hukum Adat Laot/Panglima Laot Aceh di Baet, Aceh Besar, Sabtu (16/5/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa untuk memahami sejarah, fungsi, serta peran strategis lembaga adat Panglima Laot dalam kehidupan masyarakat pesisir Aceh.

Kuliah lapangan itu diinisiasi dosen Agribisnis Fakultas Pertanian USK, Monalisa, bersama Sekretaris Panglima Laot Aceh, Azwir Nazar, yang hadir sebagai narasumber utama.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya dikenalkan pada struktur dan fungsi Panglima Laot, tetapi juga mengikuti sesi diskusi mengenai praktik-praktik kearifan lokal yang selama ini dijalankan nelayan dan tokoh adat laut di Aceh.

Azwir Nazar menjelaskan, Panglima Laot merupakan lembaga persekutuan adat yang telah hadir sejak abad ke-14 dan memiliki peran penting dalam sejarah Aceh.

“Panglima Laot ini merupakan lembaga persekutuan adat sejak abad ke-14. Dulu para indatu memobilisasi perang melawan Portugis, kemudian pada masa Sultan Iskandar Muda berperan sebagai pemungut cukai di Selat Malaka hingga masa kemerdekaan dan bergabung dengan Indonesia,” ujar mantan Presiden PPI Turki tersebut.

Menurut Azwir, seiring perkembangan zaman, Panglima Laot kini memiliki tiga fungsi utama, yakni menjaga keamanan laut, menjaga ekosistem laut, dan menjaga adat istiadat masyarakat pesisir.

Saat ini, lembaga tersebut memiliki struktur kepengurusan mulai tingkat provinsi, kabupaten/kota hingga panglima laot lhok yang tersebar di sekitar 200 lhok di seluruh Aceh.

Dalam sesi diskusi, Azwir juga membagikan pengalaman saat menghadapi kedatangan pengungsi Rohingya ke Aceh yang sempat memunculkan polemik di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa tradisi nelayan Aceh sangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

“Jangankan manusia, hewan yang terapung di laut dan membutuhkan pertolongan pun wajib ditolong. Itu yang mendasari nelayan kita menolong siapa pun yang membutuhkan pertolongan di laut,” katanya.

Sementara itu, Monalisa mengatakan, kuliah lapangan tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai kelembagaan adat di Aceh, khususnya Panglima Laot, beserta tantangan yang dihadapi ke depan.

“Mahasiswa diharapkan memahami persoalan nelayan serta aspek sosial, ekonomi, dan ekologi dalam bidang kelautan dan perikanan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran Panglima Laot Aceh yang telah menerima kehadiran dosen dan mahasiswa untuk belajar langsung mengenai kelembagaan hukum adat laut di Aceh.

Exit mobile version