Indeks
Berita  

ICMI Aceh Dorong Reboisasi Hutan untuk Cegah Banjir dan Longsor

Foto di Kampung Kenawat, Aceh Tengah -- Dok ICMI Aceh

DONYAPOST, Takengon — Ketua ICMI Aceh, Dr Taqwaddin Husin, mendesak pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan segera melakukan reboisasi di kawasan hutan gundul di dataran tinggi Aceh guna mencegah bencana banjir dan longsor, sekaligus memulihkan fungsi ekologis lingkungan.

Pernyataan itu disampaikan Taqwaddin saat melakukan kunjungan lapangan ke Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, Sabtu (2/5/2026), bersama pengurus ICMI Aceh Tengah dan sejumlah akademisi.

Menurutnya, kerusakan hutan di wilayah hulu telah mengganggu keseimbangan ekosistem, sehingga berdampak langsung terhadap meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi.

“Reboisasi harus segera dilakukan untuk memulihkan fungsi ekologis, hidrologis, dan keanekaragaman hayati. Ini penting untuk mencegah banjir, longsor, sekaligus mengurangi dampak pemanasan global,” tegas Taqwaddin.

Dalam kunjungan tersebut, ia didampingi Ketua ICMI Aceh Tengah Dr Edi Putra Kelana, serta akademisi dari Universitas Gajah Putih, Takengon. Selain meninjau kondisi lapangan, rombongan juga menggelar diskusi terbatas terkait penanggulangan bencana berbasis lingkungan.

Pada kesempatan itu, Taqwaddin bersama rombongan turut menyerahkan wakaf Alquran kepada pengurus ICMI Aceh Tengah untuk disalurkan kepada korban banjir dan longsor di wilayah tersebut.

Dalam pertemuan tersebut, ICMI Aceh Tengah juga mengusulkan pelaksanaan Seminar Internasional Penanggulangan Bencana yang direncanakan berlangsung di Takengon dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni 2026.

Ketua panitia, Dr Amna, menyebut pihaknya telah mengundang narasumber dari berbagai negara seperti Bahrain, Malaysia, Jepang, dan Indonesia, serta membuka call for paper bagi para peneliti lintas disiplin ilmu yang fokus pada isu kebencanaan.

Menanggapi rencana tersebut, Taqwaddin yang juga dosen Pascasarjana Magister Ilmu Kebencanaan Universitas Syiah Kuala menekankan pentingnya pendekatan hulu-hilir dalam pembahasan seminar.

“Penanggulangan bencana harus dibahas secara menyeluruh, mulai dari perbaikan hutan di kawasan hulu hingga penataan sungai dan kuala di hilir. Jangan hanya fokus pada dampaknya saja,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa upaya penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan secara parsial. Menurutnya, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan masyarakat, akademisi, organisasi, dunia usaha, media, dan pemerintah.

“Penanggulangan bencana harus berbasis kemitraan. Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah semata,” pungkasnya.

Exit mobile version