Indeks
Berita  

Rektor USK dari Masa ke Masa: Dari A. Madjid Ibrahim hingga Mirza Tabrani

DONYAPOST, Banda Aceh — Universitas Syiah Kuala (USK), perguruan tinggi negeri tertua di Aceh, resmi berdiri pada 2 September 1961 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Nomor 11 Tahun 1961 tertanggal 21 Juli 1961.

Pendirian tersebut kemudian dikukuhkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 161 Tahun 1962 pada 24 April 1962, menandai pengakuan penuh negara terhadap USK sebagai institusi strategis pengembangan pendidikan tinggi di ujung barat Indonesia.

Sejak mulai beroperasi, USK—yang kala itu bernama Universitas Syiah Kuala (Unsyiah)—telah dipimpin oleh sejumlah rektor dengan latar belakang, gaya kepemimpinan, serta tantangan zaman yang berbeda-beda.

Dinamika kepemimpinan tersebut membentuk wajah USK dari kampus rintisan daerah hingga menjadi perguruan tinggi negeri badan hukum (PTN BH).

Rektor pertama Unsyiah adalah Drs. A. Madjid Ibrahim, yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri PTIP Nomor 1403/UP/III/65 tanggal 6 Maret 1965. Ia memimpin selama delapan tahun (1965–1973) dan dikenal sebagai peletak fondasi awal tata kelola akademik dan kelembagaan universitas.

Estafet kepemimpinan kemudian berlanjut ke Prof. Dr. Ibrahim Hasan, MBA (1973–1983), disusul Prof. Dr. H. Abdullah Ali, MSc (1983–1991), dan Prof. Dr. H. M. Ali Basyah Amin, MA (1991–1995). Periode ini ditandai dengan penguatan kapasitas akademik dan ekspansi kelembagaan USK.

Pasca wafatnya Ali Basyah Amin, kepemimpinan USK diemban oleh Prof. Dr. H. Dayan Dawood, MA (1995–2001). Masa jabatannya berakhir secara tragis ketika ia ditembak oleh orang tak dikenal di Jalan Teuku Nyak Arief, Banda Aceh, pada 6 September 2001. Peristiwa tersebut menjadi salah satu catatan paling kelam dalam sejarah pendidikan tinggi Aceh.

Posisi Dayan Dawood kemudian digantikan oleh Prof. Dr. Ir. H. Abdi A. Wahab, MSc (2001–2006). Di masa kepemimpinannya, Aceh menghadapi dua peristiwa besar yang memengaruhi kehidupan kampus: bencana tsunami 2004 dan penandatanganan Nota Kesepahaman Damai RI–GAM tahun 2005.

Selanjutnya, USK dipimpin oleh Prof. Dr. H. Darni M. Daud (2006–2012). Meski semula direncanakan menjabat hingga 2014, Darni mengundurkan diri di tengah masa jabatan karena maju sebagai calon Gubernur Aceh.

Kepemimpinan berikutnya dipegang oleh Prof. Dr. Samsul Rizal, M.Eng., yang mencatat sejarah dengan menjabat tiga periode berturut-turut (2012–2014, 2014–2018, dan 2018–2022).

Pada era inilah Unsyiah mulai menapaki transformasi kelembagaan yang kemudian bermuara pada perubahan nama menjadi Universitas Syiah Kuala (USK).

Periode selanjutnya dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Marwan (2022–2026). Namun, dalam pemilihan rektor terakhir, Marwan gagal mempertahankan jabatannya.

Kini, tongkat estafet kepemimpinan resmi beralih ke Prof. Dr. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A., yang terpilih sebagai Rektor ke-10 Universitas Syiah Kuala untuk periode 2026–2031.

Terpilihnya Mirza menandai babak baru kepemimpinan USK di era PTN BH, dengan ekspektasi kuat terhadap pembaruan tata kelola, peningkatan reputasi akademik, serta penguatan peran universitas bagi pembangunan Aceh dan Indonesia. [Disadur dari berbagai sumber dengan polesan AI]

Exit mobile version