DONYAPOST, Jakarta — Sepuluh bulan pascabencana di Aceh, tiga jembatan yang terdampak banjir bandang di jalur nasional Lintas Timur Aceh mulai kembali pulih. Dua jembatan telah sepenuhnya rampung dan fungsional, sementara satu lainnya tinggal menyelesaikan pekerjaan akhir.
Pemulihan dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh pada Jembatan Krueng Meureudu di Pidie Jaya, Krueng Tingkeum di Bireuen, dan Ulee Langa di Aceh Utara.
Ketiga jembatan tersebut berada di Koridor Lintas Timur Aceh pada jalur nasional Banda Aceh-Medan. Pemulihannya memperkuat kembali konektivitas masyarakat sekaligus mendukung distribusi logistik di wilayah tersebut.
“Kementerian PU terus berusaha agar akses jalan dan jembatan ditangani secepat mungkin. Jalan dan jembatan merupakan urat nadi pergerakan masyarakat hingga distribusi logistik,” kata Menteri PU Dody Hanggodo dalam keterangannya, Rabu (16/9/2026).
Sebelum jembatan permanen dipulihkan, pemerintah melakukan penanganan darurat dengan menyediakan jembatan sementara atau bailey untuk menjaga akses tetap terbuka.
Dody mengatakan pemulihan infrastruktur jembatan di wilayah terdampak bencana penting untuk memastikan konektivitas masyarakat tetap terjaga. Akses yang terbuka dibutuhkan agar aktivitas perekonomian, distribusi logistik, dan proses pemulihan pascabencana dapat berjalan dengan baik.
Berdasarkan data BPJN Aceh per 14 September 2026, Jembatan Krueng Meureudu sepanjang 61,8 meter telah rampung dan berfungsi. Jembatan tersebut berada di ruas Batas Kota Sigli-Kota Bireuen.
Jembatan Ulee Langa sepanjang 16,6 meter pada ruas Batas Kota Lhokseumawe/Aceh Utara-Peureulak juga telah rampung dan fungsional.
Sementara itu, pemulihan Jembatan Krueng Tingkeum sepanjang 149 meter telah mencapai 99,14 persen. Pekerjaan yang tersisa meliputi pemasangan andesit untuk pejalan kaki, pengaspalan, dan marka jalan.
Jembatan Krueng Tingkeum ditargetkan sepenuhnya berfungsi pada 20 September 2026.
Kementerian PU memastikan pemulihan infrastruktur vital terdampak bencana terus dilakukan hingga kembali berfungsi dan dapat dimanfaatkan masyarakat secara optimal.
Pemulihan tersebut menjadi bagian dari percepatan penanganan pascabencana di Aceh, terutama untuk menjaga konektivitas dan kelancaran aktivitas masyarakat serta distribusi logistik. []






