DONYAPOST, Banda Aceh — UIN Ar-Raniry Banda Aceh memperkuat kesiapan dosen dan perangkat akademik menjelang dimulainya perkuliahan perdana Program Studi Sarjana Kedokteran dan Program Pendidikan Profesi Dokter.
Persiapan dilakukan melalui enam workshop Teaching and Learning yang digelar selama tiga pekan berturut-turut. Setiap workshop mengangkat tema berbeda dengan menghadirkan narasumber yang memiliki kompetensi di bidang pendidikan kedokteran.
Workshop perdana berlangsung 3–4 September 2026 di Ruang Rapat Rektor Lantai II Gedung Rektorat UIN Ar-Raniry. Kegiatan diikuti seluruh dosen Fakultas Kedokteran bersama tim pengembang kurikulum.
Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag., mengatakan kesiapan dosen dan perangkat pembelajaran harus dipastikan sebelum mahasiswa angkatan pertama memasuki ruang kuliah.
Menurutnya, pelaksanaan workshop menjadi momentum penting karena bertepatan dengan terbitnya izin operasional Fakultas Kedokteran dan proses penerimaan mahasiswa baru.
“Momen workshop ini saya pikir sangat tepat. Seakan-akan kita sudah tahu bahwa SK Fakultas Kedokteran itu keluar di minggu ini. Begitu SK keluar, workshop ini dilaksanakan, mahasiswa baru kita terima. Jadi artinya semuanya berjalan selaras,” ujar Mujiburrahman.
Ia menegaskan, mahasiswa yang diterima nantinya menjadi bagian dari angkatan pertama pendidikan dokter UIN Ar-Raniry. Karena itu, seluruh aspek pembelajaran harus dipersiapkan sejak awal.
“Ini angkatan pertama. Jadi kita harus memastikan bahwa dari sisi pembelajaran, dosen dan perangkat akademiknya benar-benar siap,” katanya.
Tak Sekadar Siapkan Materi
Koordinator Tim Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry, dr. Hendra Kurniawan, MSc, SpP(K), mengatakan rangkaian workshop dirancang tidak hanya untuk memperkuat penguasaan materi akademik, tetapi juga kemampuan pedagogis dosen.
Pendidikan kedokteran, kata Hendra, membutuhkan kemampuan dosen menerjemahkan kurikulum ke dalam proses pembelajaran yang terstruktur dan sesuai karakteristik pendidikan kedokteran.
“Dosen tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga harus mampu merancang dan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan karakteristik pendidikan kedokteran,” ujar Hendra.
Enam workshop tersebut akan dilaksanakan secara berkesinambungan selama tiga pekan. Setiap sesi menghadirkan narasumber sesuai bidang pembelajaran pendidikan kedokteran.
Dengan pola tersebut, pembekalan tidak berhenti pada penyusunan dokumen akademik. Dosen dipersiapkan agar mampu menjalankan proses pembelajaran ketika mahasiswa mulai mengikuti perkuliahan.
Workshop perdana menghadirkan tiga narasumber dari Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yakni Dr. dr. Fika Ekayanti, M.Med.Ed., MARS., Dr. dr. Risahmawati, M.Ed.Sc., MARS., dan Ghina Mutiara Abas, S.Pd., M.Biomed.
Izin Operasional Bukan Akhir
Fika Ekayanti mengatakan terbitnya izin operasional bukan menjadi akhir dari persiapan penyelenggaraan pendidikan dokter.
Menurut Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu, tantangan berikutnya adalah memastikan proses pendidikan berjalan baik ketika mahasiswa mulai belajar.
“Setelah mendapatkan izin operasional, tantangan berikutnya adalah bagaimana memastikan proses pendidikan berjalan dengan baik ketika mahasiswa sudah mulai belajar. Karena itu, komitmen dan kesiapan seluruh unsur akademik menjadi kunci utama dalam penyelenggaraan Program Studi Pendidikan Dokter,” ujar Fika.
Ia menilai kesiapan dosen menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kualitas pendidikan kedokteran. Salah satu perangkat utama yang harus dipersiapkan adalah Rencana Pembelajaran Semester (RPS).
Fika mengingatkan agar RPS tidak berhenti sebagai dokumen administratif, tetapi benar-benar digunakan sebagai panduan pembelajaran.
“Kita perlu mempersiapkan RPS dengan baik sejak semester awal. Tidak hanya sekadar membuat dokumen, tetapi harus benar-benar dikaji, dibaca, dan dipahami agar sesuai dengan proses pembelajaran yang akan dijalankan,” katanya.
Dosen Langsung Praktik
Dalam workshop perdana, para dosen mendapatkan pembekalan mengenai prinsip penyusunan RPS, perancangan dan pelaksanaan modul pembelajaran, serta simulasi penyusunan RPS.
Peserta juga mengikuti praktik microteaching. Melalui sesi ini, dosen mempraktikkan rancangan pembelajaran sekaligus memperoleh pengalaman mengelola proses pembelajaran di kelas.
Materi kemudian dilanjutkan dengan penyusunan facilitator guide. Peserta dibekali pemahaman mengenai alur teknis, format penulisan, prinsip penyusunan hingga simulasi penggunaannya dalam proses pembelajaran.
Rangkaian persiapan tersebut menjadi langkah awal UIN Ar-Raniry dalam memastikan pendidikan dokter tidak hanya dimulai dengan izin operasional, tetapi juga dengan kesiapan akademik yang kuat.
Sebab, bagi kampus, angkatan pertama bukan sekadar mahasiswa pertama yang diterima. Mereka menjadi awal dari perjalanan UIN Ar-Raniry dalam membangun pendidikan kedokteran yang bermutu dan berkelanjutan. []






