Berita  

Aceh Kehilangan Sosok Keras yang Berhati Baik, Iwan Setiawan

DONYAPOST, Banda Aceh – Sepak bola Aceh kembali kehilangan salah satu sosok yang pernah ikut membuka jalan bagi talenta-talenta daerah menuju panggung nasional.

Kabar meninggalnya pelatih senior Indonesia, Iwan Setiawan, Kamis (3/9/2026), meninggalkan duka mendalam bagi insan sepak bola Aceh. Salah satunya datang dari pelatih asal Aceh yang kini menangani PSPS Riau, Akhyar Ilyas.

Bagi Akhyar, Iwan bukan sekadar pelatih senior dengan karakter keras dan temperamental. Ia adalah sosok yang memiliki kejujuran, integritas, sekaligus kepedulian besar terhadap perjalanan pemain sepak bola Indonesia.

“The Special One-nya Indonesia telah berpulang. Bang Iwan adalah salah satu orang baik di sepak bola Indonesia, dengan kejujuran dan integritas yang tinggi,” kata Akhyar.

Julukan The Special One sendiri selama ini melekat pada Jose Mourinho. Namun di sepak bola Indonesia, karakter Iwan yang keras, berani, tegas, dan tak segan berkonfrontasi membuatnya kerap disebut sebagai Jose Mourinho-nya Indonesia.

Di balik temperamennya yang keras, kata Akhyar, terdapat sosok yang sangat peduli terhadap pemain. Terlebih bagi Aceh.

Iwan memiliki hubungan panjang dengan sepak bola Tanah Rencong. Ia pernah menangani sejumlah tim Aceh dan terlibat langsung dalam pembinaan serta pencarian talenta-talenta muda.

Sejumlah pemain Aceh juga pernah mendapatkan kesempatan berkembang melalui tangan Iwan. Ia tidak sekadar datang untuk melatih. Ia datang dengan mata yang terbuka untuk melihat potensi pemain-pemain daerah.

Bagi Aceh, bagian itu menjadi warisan penting dari perjalanan Iwan.

Sebab, di tengah keterbatasan sepak bola daerah, kesempatan dari seorang pelatih seperti Iwan sering kali menjadi pintu pertama bagi seorang pemain muda untuk keluar dari daerahnya dan mengenal kompetisi yang lebih tinggi.

“Banyak pemain Aceh yang mendapat kesempatan karena beliau. Coach Iwan selalu melihat kualitas, bukan asal daerah. Itu yang membuat beliau begitu dihormati,” ujar Akhyar.

Iwan dikenal sebagai pelatih yang tidak mudah menyembunyikan perasaannya. Ia bisa keras di pinggir lapangan, vokal dalam memberikan kritik, dan berani mengambil keputusan yang tidak selalu populer.

Tetapi bagi mereka yang mengenalnya lebih dekat, karakter tersebut bukan keseluruhan dari dirinya.

Ada kejujuran di sana. Ada keberanian. Dan ada kepedulian terhadap sepak bola yang ia cintai.

Karena itu, kepergian Iwan bagi Akhyar bukan hanya kehilangan bagi sepak bola Indonesia, tetapi juga kehilangan bagi Aceh.

Aceh kehilangan salah satu sosok yang pernah percaya bahwa anak-anak Aceh mampu berdiri sejajar dengan pemain dari daerah lain.

Iwan meninggal dunia dalam usia 58 tahun. Sepanjang perjalanan kariernya, ia pernah menangani sejumlah klub Indonesia, termasuk Persija Jakarta, PSMS Medan, Borneo FC, Persela Lamongan, Persebaya Surabaya, hingga Sriwijaya FC. Ia juga pernah dipercaya menangani tim nasional kelompok usia.

Namun bagi Aceh, daftar klub itu bukanlah bagian terpenting dari warisannya. Yang lebih membekas adalah nama-nama pemain yang pernah ia beri kesempatan.

Pemain-pemain yang mungkin sebelumnya hanya dikenal di lapangan-lapangan daerah, kemudian mendapat jalan untuk bermimpi lebih tinggi. Di situlah nama Iwan Setiawan menjadi penting dalam sejarah sepak bola Aceh.

Ia mungkin bukan orang Aceh secara keseluruhan perjalanan hidupnya. Tetapi sebagian jejaknya telah tertinggal di tanah ini.

Di Sabang. Di Langsa. Di Idi. Dan di berbagai lapangan tempat anak-anak Aceh mengejar bola dan mimpi.

“Semoga Allah mengampuni segala dosamu, Bang, menerima segala amal ibadah dan ditempatkan di Surga-Nya, insyaAllah,” ujar Akhyar.

Kini, suara lantangnya di pinggir lapangan telah berhenti. Tetapi bagi Aceh, terutama mereka yang pernah mendapat kesempatan dari tangannya, Iwan Setiawan tidak benar-benar pergi.

Namanya akan tetap hidup dalam cerita para pemain yang pernah ia percaya. Dan setiap kali anak-anak Aceh berlari mengejar bola dengan mimpi menjadi pesepakbola profesional, di sanalah sebagian kecil warisan Iwan Setiawan akan terus hidup. []