Indeks

UTU Gelar FGD Bahas Penguatan Karakter Mahasiswa di Perguruan Tinggi

Rektor UTU Prof Nyak Amir M.Pd dalam forum FGD |

DONYAPOST, Aceh Barat – Universitas Teuku Umar (UTU) membahas penguatan pendidikan agama Islam dan penerapan Syariat Islam di lingkungan kampus, termasuk usulan penambahan bobot mata kuliah dari dua menjadi tiga hingga empat satuan kredit semester (SKS).

Pembahasan tersebut berlangsung dalam Focus Group Discussion (FGD) Konseptual dan Implementasi Pelaksanaan Syariat Islam di Perguruan Tinggi di Ruang Rapat Senat UTU, Rabu (14/10/2026). Forum ini juga menyoroti pentingnya penguasaan dasar fardhu ain dan pembentukan karakter mahasiswa Muslim.

FGD dipimpin Rektor UTU, Prof. Dr. Nyak Amir, M.Pd., dengan moderator Aduwina Pakeh, M.Sc. Peserta melibatkan unsur pimpinan universitas, pemerintah daerah, ulama, tokoh adat Aceh Barat, organisasi kemasyarakatan Islam, lembaga keagamaan, serta pimpinan dayah.

Rektor UTU, Prof. Nyak Amir, mengatakan FGD tersebut menjadi ruang untuk merumuskan konsep dan bentuk implementasi Syariat Islam di perguruan tinggi, terutama melalui pembelajaran Mata Kuliah Agama Islam.

“Pelaksanaan pendidikan agama di perguruan tinggi perlu mendapat perhatian bersama. Kami mengharapkan dukungan MPU, ulama, tokoh adat, dan organisasi kemasyarakatan Islam untuk memberikan masukan serta terlibat dalam program pembinaan keagamaan mahasiswa di UTU,” kata Nyak Amir.

Salah satu bentuk kolaborasi yang diusulkan ialah menghadirkan ulama dan ustaz sebagai praktisi pengajar bersama dosen. Masukan peserta FGD akan menjadi bahan penyusunan program pembinaan keagamaan melalui kegiatan kurikuler maupun ekstrakurikuler.

Fardhu Ain Jadi Perhatian

Dalam pemaparan materi, Ustaz Ismu Ridha, Ph.D., mengidentifikasi pembentukan karakter mahasiswa Muslim dan keterbatasan pemahaman dasar fardhu ain sebagai persoalan yang perlu mendapat perhatian. Kondisi tersebut antara lain dikaitkan dengan latar belakang pendidikan mahasiswa yang berasal dari sekolah menengah umum, bukan madrasah aliyah atau pesantren.

Forum menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam memperkuat pengetahuan dan praktik keagamaan mahasiswa. Karena itu, penguasaan fardhu ain dinilai perlu menjadi sasaran utama pendidikan agama, dengan pembelajaran yang terarah dan terukur.

Peserta FGD mendorong peninjauan bobot Mata Kuliah Agama Islam dari dua SKS menjadi tiga hingga empat SKS. Penyesuaian tersebut diusulkan agar pembelajaran agama memiliki ruang yang lebih memadai untuk memperkuat pemahaman dan praktik keagamaan mahasiswa.

Selain penambahan bobot mata kuliah, peserta menekankan perlunya penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS), Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) secara spesifik. Dengan demikian, penguasaan fardhu ain dapat dirumuskan sebagai capaian pembelajaran yang jelas dan dievaluasi.

Masjid Kampus sebagai Pusat Pembinaan

Pembahasan juga mencakup penyusunan kerangka regulasi dan tata kelola kampus berbasis Syariat Islam yang selaras dengan visi dan misi UTU. Penerapannya diusulkan melalui program pembinaan mahasiswa, baik dalam kegiatan kurikuler maupun ekstrakurikuler, termasuk aktivitas dakwah berbasis masjid.

Masjid UTU diusulkan menjadi pusat edukasi keagamaan sekaligus student corner bagi mahasiswa. Penguatan pendidikan agama juga diharapkan terintegrasi dalam kegiatan magang dan kuliah kerja nyata (KKN).

Pada aspek tata tertib, peserta membahas penerapan aturan berpakaian Islami bagi mahasiswa Muslim serta penyesuaian dengan kearifan lokal bagi mahasiswa non-Muslim. Forum juga mengusulkan penyusunan panduan kerapian mahasiswa dan penerbitan surat keterangan kemampuan membaca Al-Qur’an bagi mahasiswa Muslim.

Dosen turut dipandang memiliki peran penting sebagai teladan dalam penerapan nilai-nilai syariat di lingkungan kampus. Keteladanan tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter melalui proses pembelajaran dan interaksi sehari-hari.

Untuk mendukung pelaksanaan program, peserta membahas pembentukan unit khusus yang menangani pengembangan keagamaan dan karakter mahasiswa atau penguatan fungsi Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran Agama Islam (LP3AI).

Libatkan Ulama dan Tokoh Adat

FGD melibatkan berbagai unsur eksternal, antara lain Dinas Syariat Islam, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), Majelis Adat Aceh (MAA), Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ), Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), Majelis Ulama Dayah Aceh Barat (MUDAB), Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), serta pimpinan dayah dan tokoh adat Aceh Barat.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan memperkaya penyusunan program dengan mempertimbangkan nilai keagamaan, adat, dan kondisi sosial masyarakat Aceh Barat.

Hasil FGD akan menjadi bahan pembahasan lanjutan bagi UTU dalam merumuskan kerangka kebijakan, kurikulum, tata kelola, serta program pembinaan keagamaan dan karakter mahasiswa. Seluruh usulan akan dikaji lebih lanjut sebelum ditetapkan sebagai program dan kebijakan universitas. []

Exit mobile version