Indeks
Berita  

Pakar dari Jerman IKut Hari Kesehatan Mental Sedunia di UIN Ar-Raniry

DONYAPOST, Banda Aceh — Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh menghadirkan lima narasumber dari bidang akademik, keagamaan, advokasi, dan layanan kesehatan jiwa internasional dalam seminar memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026, Sabtu (10/10/2026).

Seminar bertajuk Real Voice, Real Change: Bridging Local Wisdom and Global Mental Health Advocacy itu membahas pentingnya menghubungkan kearifan lokal dengan advokasi kesehatan mental global, termasuk peran keluarga, nilai-nilai tasawuf, pengalaman menghadapi stigma, dan praktik layanan kesehatan jiwa di Jerman.

Kegiatan berlangsung secara luring dan daring melalui Zoom di Aula SBSN Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry. Seminar ini diselenggarakan melalui kolaborasi KESMENESIA, RUANITA, dan Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry, dengan dukungan Bank Syariah Indonesia (BSI) dan UKK RISPI.

Dekan Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Muslim, M.Si., mengatakan seminar tersebut diharapkan menghasilkan gagasan dan kerja sama yang berlanjut pada tindakan nyata, bukan sekadar kegiatan seremonial.

“Kami berharap kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi menjadi awal lahirnya gagasan, kerja sama, dan aksi nyata dalam meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental,” ujarnya.

Lima narasumber menyampaikan perspektif berbeda mengenai upaya memahami dan meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental.

Fatimah Ibda, M.Si., Ph.D., menekankan peran keluarga dan budaya dalam membentuk cara seseorang memahami serta menghadapi persoalan psikologis.

Sementara itu, Dr. Sehat Ihsan Shadiqin, M.Ag., mengulas nilai-nilai tasawuf, terutama pentingnya ketenangan batin dalam mendukung kesejahteraan diri.

Dari perspektif advokasi, Mariska Ajeng Harini, relawan Indonesia di Jerman, guru taman kanak-kanak, sekaligus advokat kesehatan mental, membagikan pengalaman menghadapi stigma. Ia menyoroti pentingnya keberanian untuk bersuara agar persoalan kesehatan mental tidak terus dianggap tabu.

Perspektif layanan profesional di tingkat internasional disampaikan Aulia Farsi, perawat jiwa di Asklepios Klinik Hamburg, Jerman, sekaligus Ketua Umum KESMENESIA periode 2026–2028.

Ia memaparkan sistem dan praktik layanan kesehatan mental di Jerman, termasuk pendekatan penanganan kesehatan jiwa secara profesional.

Adapun Vera Nova, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dosen Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry yang sedang menempuh studi doktoral di Universiti Utara Malaysia, menegaskan bahwa kesehatan mental tidak cukup hanya dipahami sebagai upaya merawat diri sendiri (self-care).

Menurut Vera, kepedulian bersama (collective care) juga diperlukan dengan melibatkan keluarga, komunitas, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental.

Diskusi dipandu Shofia Nurul Husna dan Riziq El Fathir dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Selain pemaparan materi dan diskusi interaktif, seminar menghadirkan sesi refleksi bertajuk What Can We Change untuk mengajak peserta merumuskan langkah konkret dalam membangun lingkungan yang lebih peduli terhadap kesehatan mental.

Peserta diajak memulai kepedulian melalui tindakan sederhana, seperti mendengarkan tanpa menghakimi, mendukung orang terdekat, menghargai pengalaman orang lain, serta menghindari stigma terhadap mereka yang menghadapi persoalan psikologis. []

Exit mobile version