Indeks
Berita  

Film Surat Kaleng 1949 Jadi Bahan Diskusi Sejarah Mahasiswa

DONYAPOST, Banda Aceh — Film dokumenter Surat Kaleng 1949 karya Aceh Documentary menjadi bahan diskusi mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Film tersebut mengangkat peran komunikasi rahasia dan media di Aceh dalam menyebarkan informasi perjuangan Indonesia saat Agresi Militer Belanda II pada 1949.

Pemutaran film dan diskusi digelar di Library Theater Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Rabu (7/10/2026). Kegiatan diselenggarakan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FAH bersama DEMA FISIP UIN Ar-Raniry.

Surat Kaleng 1949 mengisahkan bagaimana informasi dari Aceh diteruskan ke dunia internasional ketika Belanda mengklaim Republik Indonesia telah runtuh. Informasi tersebut menjadi bagian dari upaya menunjukkan bahwa Indonesia masih bertahan.

Dekan FAH UIN Ar-Raniry, Syarifuddin MA PhD, mengatakan judul Surat Kaleng 1949 memiliki makna filosofis. Menurutnya, pesan rahasia yang tampak sederhana dapat menjadi pemicu perubahan besar dalam sejarah.

“Surat kaleng menjadi analogi benih kecil yang mampu memicu perubahan sejarah besar,” kata Syarifuddin.

Ia mengatakan film sejarah tidak cukup ditonton sebagai hiburan atau informasi semata. Mahasiswa perlu membandingkan narasi dalam film dengan arsip dan hasil penelitian agar sejarah dapat dipahami secara kritis.

“Perpustakaan adalah cermin yang memantulkan kehidupan para pendirinya. Pertemuan antara film, arsip, dan diskusi di perpustakaan memperluas cara belajar kita dalam merawat ingatan sejarah,” ujarnya.

Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan FISIP UIN Ar-Raniry, Dr Saifullah Maysa, mengatakan media audio-visual dapat menjadi metode pembelajaran sejarah yang lebih dekat dengan mahasiswa.

Menurutnya, sejarah perjuangan Aceh penting dipahami generasi muda, terutama calon pemimpin masa depan.

“Melalui media audio-visual ini, mahasiswa bisa melihat langsung catatan sejarah Aceh. Karakter pejuang yang diwariskan para indatu menjadi modal berharga bagi calon pemimpin masa depan,” kata Saifullah.

Subkoordinator Seksi Otomasi Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Nurul Kemala Hayati, mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia mengatakan Library Theater disiapkan untuk mendukung literasi visual masyarakat Aceh melalui pemutaran film edukatif.

“Literasi hari ini tidak hanya membaca buku. Melalui Library Theater, kami ingin memperkenalkan film-film edukatif berunsur sejarah, sosial, dan keagamaan untuk generasi muda,” ujarnya.

Ketua panitia, Fathin Rizqi Erasqal, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengapresiasi film sekaligus mendiskusikan isu sejarah yang diangkat.

Diskusi menghadirkan Ahmad Fauzan dan Mardani Malemi sebagai pemantik, dengan Muhammad Yufanza Rahfiansyah sebagai moderator.

Kegiatan turut dihadiri Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FAH UIN Ar-Raniry, Umar bin Abd. Azis. []

Exit mobile version