DONYAPOST, Banda Aceh — Sedikitnya 1.630 mahasantri baru mengikuti Program Orientasi Ma’had Al Jami’ah UIN Ar-Raniry Banda Aceh semester ganjil Tahun Akademik 2026/2027. Dari jumlah tersebut, 607 mahasantri menjalani pembinaan intensif selama tiga bulan di asrama.
Program orientasi dibuka di Mushalla Ma’had Al Jami’ah UIN Ar-Raniry, Senin (21/9/2026). Peserta lainnya mengikuti program secara daring.
Keikutsertaan mahasantri ditentukan berdasarkan hasil placement test kemampuan membaca Al-Qur’an dan pengetahuan dasar Dinul Islam.
Materi orientasi mencakup urgensi program Ma’had, kegiatan akademik, serta rutinitas asrama. Program ini dirancang untuk membentuk karakter dan kedisiplinan mahasantri.
Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag., meminta seluruh mahasantri mengikuti program tersebut dengan sungguh-sungguh. Ia menegaskan pembinaan Ma’had merupakan bagian dari proses pendidikan yang manfaatnya akan dirasakan mahasiswa sendiri.
“Seriuslah mengikuti program ini. Mungkin ada rasa berat, mungkin ada rasa bosan, tetapi itu harus dilawan. Program ini baik untuk kalian sendiri,” ujar Mujiburrahman.
Ia menegaskan program Ma’had bukan untuk kepentingan pendamping maupun pimpinan universitas, melainkan untuk pengembangan diri mahasantri.
“Program ini bukan untuk pendamping dan bukan untuk pimpinan, tetapi untuk Anda sendiri. Nanti setelah selesai mengikuti program ini, Anda akan melihat manfaatnya,” tegasnya.
Mujiburrahman menjelaskan, pada masa IAIN Ar-Raniry, kemampuan membaca Al-Qur’an, pengetahuan dasar Dinul Islam, dan praktik ibadah menjadi bagian penting dalam penerimaan mahasiswa.
Namun, setelah bertransformasi menjadi UIN, penerimaan mahasiswa tidak lagi menggunakan tes khusus kemampuan membaca Al-Qur’an dan pengetahuan dasar Dinul Islam.
Karena itu, Kementerian Agama menghadirkan program Ma’had sebagai salah satu instrumen pembinaan wajib bagi mahasiswa perguruan tinggi keagamaan Islam.
“Karena itu, silakan ikuti program ini dengan baik dan serius,” katanya.
Mujiburrahman juga mengingatkan mahasantri agar memenuhi ketentuan program. Pimpinan universitas akan melihat hasil pembinaan, sementara peserta yang tidak mengikuti kegiatan dengan serius dapat dikenai tindakan sesuai ketentuan yang berlaku.
Ia menegaskan sertifikat Ma’had hanya diberikan kepada mahasantri yang mengikuti seluruh proses pembinaan dan memenuhi standar penilaian.
Sertifikat tersebut bukan formalitas yang dapat diminta tanpa mengikuti kegiatan. Ma’had tidak akan melayani permintaan sertifikat dari peserta yang tidak mengikuti program sebagaimana mestinya atau tidak memperoleh nilai memadai.
Rektor meminta mahasantri memanfaatkan masa pembinaan untuk memperkuat kemampuan membaca Al-Qur’an, memahami dasar-dasar Dinul Islam, serta membangun kedisiplinan dan karakter sebagai bekal menjalani pendidikan di UIN Ar-Raniry.
“Yang paling penting, ikuti prosesnya dengan serius. Karena manfaat dari program ini pada akhirnya akan kembali kepada Anda sendiri,” pungkasnya.
Pembukaan program turut dihadiri Mudir Ma’had Al Jami’ah UIN Ar-Raniry, Dr. H. Muhajirul Fadhli, M.A., para guru pendamping mahasantri, pimpinan dan wakil dekan bidang akademik dan kelembagaan di lingkungan UIN Ar-Raniry, serta Imam Besar Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry. []






