Berita  

UIN Ar-Raniry Edukasi Cegah Kekerasan Seksual dan Bullying

DONYAPOST, Banda Aceh — Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Negara (HIMASTRA) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) UIN Ar-Raniry Banda Aceh bekerja sama dengan UPTD Rumoh Seujahtera Aneuk Nanggroe (RSAN) Dinas Sosial Aceh menggelar program pengabdian masyarakat bertajuk Pekan Aneuk Nanggroe.

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Anak tersebut berlangsung selama sepekan, 19–26 Juli 2026, dengan mengusung edukasi pencegahan kekerasan seksual dan perundungan (bullying) bagi anak.

Program ini diikuti anak-anak binaan UPTD RSAN melalui berbagai aktivitas edukatif, mulai dari senam bersama, pemutaran video edukasi, hingga penyuluhan tentang perlindungan diri, batasan tubuh (body autonomy), serta cara menyikapi tindakan perundungan. Sesi edukasi berlangsung di Aula Teater UIN Ar-Raniry sebagai bagian dari program edutrip yang melibatkan anak-anak binaan RSAN.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) UIN Ar-Raniry, Prof. Muji Mulia, menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, kegiatan ini mencerminkan komitmen mahasiswa UIN Ar-Raniry dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.

Ketua HIMASTRA Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Phonna, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk pengabdian mahasiswa sekaligus upaya membangun kesadaran anak terhadap pentingnya perlindungan diri sejak dini.

“Sebagai mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, kami memandang kebijakan perlindungan anak harus diiringi aksi nyata. Melalui Pekan Aneuk Nanggroe, kami ingin mendorong anak-anak berani berbicara apabila mengalami atau menyaksikan tindak kekerasan, sekaligus membangun budaya saling menjaga,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala UPTD RSAN Dinas Sosial Aceh, Dr. Hasriati, M.M., mengapresiasi kolaborasi yang terjalin antara HIMASTRA dan pihaknya. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dengan anak-anak sehingga materi edukasi lebih mudah dipahami.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan untuk memperkuat pemahaman anak mengenai pentingnya tumbuh dan berkembang di lingkungan yang aman, bebas dari kekerasan maupun perundungan.[]