DONYAPOST, Banda Aceh — Kelompok paduan suara nasional Australia, Gondwana Choirs, akan menampilkan tarian tradisional Aceh Ratoh Duek dalam rangkaian tur konser di Malaysia dan Singapura pada 12–14 Juli 2026.
Ratoh Duek akan dibawakan oleh para anggota muda Gondwana Choirs yang berasal dari berbagai negara bagian di Australia di bawah arahan koreografer asal Aceh, Murtala, bersama istrinya, Alfira O’Sullivan, pendiri Suara Dance Australia.
Murtala mengatakan, masuknya Ratoh Duek ke dalam repertoar Gondwana Choirs melalui proses yang panjang. Ia memperkenalkan tarian tersebut kepada manajemen paduan suara nasional Australia, yang kemudian menyambutnya dengan antusias.
“Ini tim nasional Australia. Anggotanya berasal dari berbagai provinsi di Australia,” kata Murtala seperti dilansir Waspada.id, Jumat (10/7/2026).
Menurutnya, kendala utama saat itu adalah keterbatasan anggaran karena seluruh pembiayaan tur telah disusun jauh hari sebelumnya. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk membawa Ratoh Duek tampil di panggung internasional.
Ia bersama sang istri menyiapkan sendiri biaya transportasi dan akomodasi agar dapat mendampingi proses latihan hingga pertunjukan.
Sebagai putra Aceh, Murtala mengaku sempat menghubungi sejumlah pihak di Aceh untuk memperoleh dukungan, namun tidak mendapatkan respons yang diharapkan.
Sebaliknya, dukungan justru datang dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Canberra serta Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Film, Musik, dan Seni.
“Alhamdulillah, dukungan dari KBRI Canberra dan Kementerian Kebudayaan sangat luar biasa. Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan kepada Suara Dance Australia,” ujarnya.
Ia menyebutkan, seorang diplomat Indonesia menilai penampilan Ratoh Duek oleh generasi muda Australia merupakan bentuk diplomasi budaya yang efektif dalam memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia di dunia internasional.
Selama tur Asia Tenggara, Gondwana Choirs dijadwalkan tampil di Kuala Lumpur, Kuching, dan Singapura dengan membawakan sejumlah karya, termasuk Ratoh Duek dari Aceh.
Bagi Murtala, pengalaman melatih anak-anak Australia tidak hanya tentang mempelajari gerak tari, tetapi juga menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya Aceh.
“Yang paling saya sukai adalah bagaimana mereka belajar bekerja sama dan saling membantu sejak persiapan hingga pertunjukan selesai. Ratoh Duek bukan hanya soal gerakan, tetapi juga mengajarkan nilai kebersamaan yang menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh,” katanya.
Ratoh Duek merupakan tarian tradisional Aceh yang dibawakan secara berkelompok dalam posisi duduk dengan mengandalkan kekompakan tepukan tangan, gerak tubuh yang dinamis, serta harmoni antarpenari.
Selain menjadi seni pertunjukan, tarian ini juga mencerminkan nilai kebersamaan, disiplin, dan kerja sama yang kuat dalam budaya Aceh. []






