Berita  

Khanduri Jazz 2026, Perpaduan Musik dan Kemanusiaan Memikat Publik

DONAYPOST, Banda Aceh — Perhelatan Khanduri Jazz 2026 sukses mencuri perhatian publik saat digelar di Ballroom Ayani Hotel, Banda Aceh, Jumat malam (1/5/2026) lalu.

Konser yang menjadi bagian dari perayaan International Jazz Day ini menghadirkan kolaborasi musik bernuansa hangat sekaligus mengusung pesan kemanusiaan.

Kegiatan yang digagas Radio Antero bersama Aceh Jazz Community dan Sekolah Musik Moritza ini berlangsung dalam dua agenda utama, yakni Khanduri Jazz Solidarity for Humanity pada 30 April dan Khanduri Jazz Signature Concert pada 1 Mei 2026.

Sekretaris Daerah Aceh, Muhammad Nasir Syamaun, yang hadir langsung, mengapresiasi penyelenggaraan festival tersebut. Ia menilai Khanduri Jazz tidak hanya mendorong perkembangan musik jazz di daerah, tetapi juga berpotensi memperkuat sektor pariwisata.

“Khanduri Jazz luar biasa. Ke depan, kegiatan seperti ini sebaiknya bisa digelar lebih sering, bahkan setiap tiga bulan sekali, agar mampu melahirkan lebih banyak bibit baru,” ujar Nasir.

Ia menambahkan, dengan promosi yang lebih luas dan konsep yang semakin terbuka, festival ini berpeluang menjadi daya tarik wisata sekaligus ruang pembinaan generasi muda di bidang musik.

Founder Khanduri Jazz, Uzair, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari perayaan global yang ditetapkan UNESCO sejak 2011 dan kini dirayakan di lebih dari 190 negara. Di Aceh, Khanduri Jazz telah diinisiasi sejak 2003, sempat vakum, lalu kembali dihidupkan dalam beberapa tahun terakhir.

“Tahun ini kami mengangkat tema Jazz for Humanity sebagai bentuk apresiasi kepada para pekerja kemanusiaan dan relawan, sekaligus momentum kebangkitan pasca bencana ekologis,” kata Uzair.

Sejumlah musisi lokal turut memeriahkan panggung, di antaranya Moritza Thaher, Afrizal, Yudi Amirul, Akhyar, Teuku Mahfud, Erwinsyah, dan Teuku Dedenio. Selain itu, hadir pula musisi tamu seperti Deddy Syukur dan Yudi Kurnia.

Suasana konser berlangsung intim dan penuh kehangatan. Pengunjung Muddasir mengaku terkesan dengan penampilan para musisi, terutama generasi muda yang tampil di panggung.

“Seru dan memberi wawasan baru. Harapannya kegiatan seperti ini bisa lebih sering diadakan,” ujarnya.

Pengunjung lainnya, Rita, menilai festival ini menjadi ruang penting untuk apresiasi sekaligus edukasi musik jazz bagi masyarakat. Sementara Rifki, yang kembali hadir untuk kedua kalinya, menilai konsep tahun ini lebih tenang namun tetap menarik.

“Musiknya terasa lebih tenang, mungkin sesuai tema for humanity. Tapi tetap enak dinikmati,” katanya.

Selain sebagai ruang ekspresi, Khanduri Jazz diharapkan terus berkembang sebagai panggung musik berkualitas yang berkelanjutan. Festival ini juga memiliki rekam jejak panjang sejak pertama kali digelar pada 2003, dan terus bertransformasi menjadi bagian penting dalam ekosistem musik jazz di Aceh.