DONYAPOST, Meulaboh — Ratusan jamaah memadati Masjid Agung Baitul Makmur dalam kegiatan Pengajian dan Zikir Akbar (Rateeb Seuribe) yang digelar Pemerintah Kabupaten Aceh Barat melalui Dinas Syariat Islam (DSI), Minggu (26/4/2026).
Kegiatan ini menghadirkan ulama kharismatik, Amran Wali Al-Khalidy.
Wakil Bupati Aceh Barat, Said Fadheil, dalam sambutannya menegaskan bahwa zikir akbar bukan sekadar ritual ibadah, tetapi menjadi sarana memperkuat spiritualitas masyarakat di tengah berbagai tantangan kehidupan.
“Zikir mampu menenangkan hati, membersihkan jiwa, serta menjadi benteng spiritual di tengah berbagai tantangan, baik sosial, ekonomi, maupun moral,” ujarnya.
Ia menyebutkan, kegiatan zikir dan majelis taklim merupakan bagian dari program unggulan pemerintah daerah dalam memperkuat pemahaman keislaman masyarakat.
Menurutnya, tradisi Rateeb Seuribe memiliki nilai religius yang mendalam dan menjadi simbol kebersamaan serta kekuatan doa.
“Ini bukan hanya tradisi, tetapi warisan spiritual yang sarat makna. Melalui zikir ini, kita memohon keberkahan, keselamatan, dan kemajuan bagi daerah,” tambahnya.
Said Fadheil juga menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung kegiatan syiar Islam. Ia menilai pembangunan daerah tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga harus dibarengi dengan penguatan akhlak, iman, dan ketakwaan masyarakat.
“Melalui zikir akbar ini, kita berharap lahir semangat baru untuk membangun masyarakat yang religius, berakhlak mulia, serta menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, ia turut mengajak masyarakat untuk terus meramaikan majelis ilmu, menjaga persatuan, serta memperkuat kebersamaan dalam membangun daerah.
Sebelumnya, rangkaian kegiatan diawali dengan jamuan makan malam bersama antara Abuya Amran Wali Al-Khalidy dengan jajaran Pemerintah Kabupaten Aceh Barat dan Forkopimda di Pendopo Bupati, sebagai bentuk silaturahmi dan penghormatan kepada ulama.
Kegiatan zikir akbar ini menjadi momentum penting dalam memperkuat nilai-nilai keagamaan sekaligus mempererat hubungan antara ulama, umara, dan masyarakat di Aceh Barat.
