DONYAPOST, Tamiang — Bencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir 2025 tidak hanya menyisakan kerusakan, tetapi juga meninggalkan luka mendalam bagi para penyintas.
Di tengah kondisi tersebut, pembangunan hunian sementara (huntara) kini menjadi titik balik harapan bagi warga terdampak.
Bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal—baik rusak ringan, berat, hingga hilang diterjang banjir—kehadiran huntara bukan sekadar atap pengganti. Hunian ini menjadi ruang hidup baru yang layak dan manusiawi di tengah masa pemulihan yang tidak mudah.
Sebagai bagian dari penanganan darurat, Kementerian Pekerjaan Umum melalui PT Wijaya Karya (Persero) Tbk membangun huntara berkonsep modular yang tersebar di sejumlah titik strategis.
Huntara I dibangun di Kampung Bundar, Kecamatan Karang Baru, tepat di belakang Kantor DPRK Aceh Tamiang. Lokasi ini menjadi pusat pemulihan awal bagi warga terdampak.
Sementara Huntara II berada di depan SMP Negeri 1 Karang Baru, dan Huntara III tengah dikebut pembangunannya di Kampung Bukit Rata, Kecamatan Kejuruan Muda, di jalur lintas Medan–Banda Aceh.
Setiap unit huntara dirancang kokoh dan fungsional. Satu modul terdiri dari 12 pintu hunian yang disusun saling membelakangi, dilengkapi fasilitas sanitasi terpisah untuk pria dan wanita demi menjaga kenyamanan dan privasi penghuni.
Senior Advisor for Assessment Divisi Quality Control proyek tanggap darurat WIKA, Rahmadina Alya, menyebutkan saat ini terdapat 12 modul yang sedang dalam proses pembangunan.
Keunggulan utama huntara ini terletak pada penggunaan teknologi baja modular MOLI yang memungkinkan proses pembangunan berlangsung cepat tanpa alat berat. Selain efisien, metode ini juga meminimalkan gangguan terhadap kondisi tanah di sekitar lokasi.
“Teknologi ini mempercepat konstruksi sekaligus menjaga lingkungan sekitar tetap stabil,” jelasnya didampingi Safety Officer, Rendy, saat menerima kunjungan media, Senin (20/4/2026).
Desain hunian juga disesuaikan dengan iklim tropis. Lapisan aluminium foil pada atap membantu meredam panas, sehingga suhu dalam ruangan tetap nyaman. Fasilitas pendukung seperti mushola, area terbuka, instalasi pengolahan limbah biotech, hingga jaringan listrik dari PLN turut melengkapi kawasan ini.
Bagi tim pelaksana, proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi juga bentuk kehadiran negara dalam memastikan masyarakat terdampak mendapatkan hunian yang layak dan bermartabat.
Kini, seiring tersedianya tempat tinggal sementara, kehidupan sosial dan ekonomi warga perlahan mulai bangkit. Huntara yang dibangun WIKA menjadi bukti bahwa di tengah bencana, harapan tetap bisa dibangun—dimulai dari sebuah tempat tinggal yang layak. [wspid]
