Indeks
Berita  

Perpustakaan Jangan Jadi Gudang Buku, Harus Jadi Ruang Literasi

| © Hak cipta foto diatas dikembalikan sepenuhnya kepada pemilik foto.

DONYAPOST, Banda Aceh — Paradigma pengelolaan perpustakaan di Aceh dinilai masih tertinggal. Alih-alih menjadi pusat sumber belajar, perpustakaan di banyak sekolah dan kampus masih berfungsi pasif, sekadar tempat penyimpanan buku dan pelengkap administrasi.

Kondisi ini menjadi sorotan dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan Perpustakaan 2026 di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, Kamis (16/4/2026).

Dalam forum tersebut ditegaskan bahwa perpustakaan harus bertransformasi menjadi ruang hidup yang mendorong aktivitas belajar, bukan sekadar ruang sunyi yang jarang dimanfaatkan. Sistem pembelajaran berbasis perpustakaan (library based learning) dinilai belum berjalan optimal di Aceh.

“Perpustakaan tidak boleh lagi hanya menjadi gudang buku paket atau sekadar memenuhi kebutuhan akreditasi,” menjadi penegasan utama yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.

Dalam konsep pendidikan modern, perpustakaan seharusnya menjadi pusat literasi, riset, dan pengembangan intelektual. Keberadaannya harus mampu mendorong siswa dan mahasiswa untuk membaca, meneliti, serta membangun daya analisis yang kuat.

Namun realitasnya, banyak perpustakaan belum dikelola secara profesional. Minimnya inovasi, keterbatasan fasilitas, serta belum optimalnya pemanfaatan teknologi informasi membuat fungsi perpustakaan belum maksimal.

Melalui kegiatan bimtek ini, peserta dibekali berbagai materi strategis, mulai dari kebijakan pengembangan perpustakaan, standar nasional, manajemen koleksi, hingga sistem katalogisasi dan klasifikasi. Selain itu, pemanfaatan teknologi digital dan otomasi perpustakaan juga menjadi fokus penting.

Transformasi ini dinilai krusial untuk menjawab tantangan pendidikan ke depan. Perpustakaan harus menjadi ruang yang nyaman, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan generasi saat ini.

Sebanyak 75 peserta yang terdiri dari guru dan pengelola perpustakaan sekolah di Aceh Besar mengikuti pelatihan ini. Mereka diharapkan mampu membawa perubahan nyata di institusi masing-masing.

Kegiatan yang berlangsung selama empat hari tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong reformasi sistem pembelajaran di Aceh, dengan menempatkan perpustakaan sebagai jantung pendidikan.

Jika tidak segera dibenahi, perpustakaan akan terus tertinggal dan gagal menjalankan peran strategisnya. Sebaliknya, jika dikelola dengan baik, perpustakaan berpotensi menjadi motor penggerak lahirnya generasi yang literat, kritis, dan siap bersaing di era global.

Exit mobile version