DONYAPOST, Banda Aceh — Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Program Studi Teknik Geologi menjadi tuan rumah seminar nasional yang membahas secara mendalam potensi geologi Aceh.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Rapat Kerja Nasional Asosiasi Program Studi Teknik Geologi Indonesia (ASPRODITEGI) yang berlangsung di Banda Aceh dan Sabang, 7–9 Agustus 2025.
Seminar nasional tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Prof. Dr. Mustanir, M.Sc di Aula Multi Purpose Fakultas Pertanian USK.
“Indonesia adalah negeri dengan potensi geologi luar biasa. Namun, di balik kekayaan tersebut, juga tersimpan risiko jika tidak dikelola dengan pendekatan keilmuan yang tepat,” tegas Mustanir.
Ia menyoroti bahwa banyak bencana yang terjadi justru bermula dari ketidaktahuan atau abai terhadap struktur geologi. “Ambil contoh eksploitasi galian C. Jika tidak terkontrol, ini bisa menjadi sumber kerusakan ekosistem bahkan mengancam keselamatan,” lanjutnya.
Ketua panitia, Dr. Bambang Setiawan, S.T., M.Eng menyampaikan bahwa seminar ini menghadirkan 36 peserta dari 27 prodi Teknik Geologi di seluruh Indonesia. Para peserta berasal dari 19 provinsi—mulai dari Papua, Maluku, Kalimantan, Jawa, hingga Sumatera.
Selain seminar, kegiatan ini juga mencakup workshop penyusunan capstone design geologi bersama narasumber dari lembaga akreditasi nasional, serta agenda geowisata dan rapat kerja ASPRODITEGI yang akan digelar di Sabang.
“Fokus kita menyamakan pemahaman tentang standar teknis dan akademik di seluruh program studi geologi di Indonesia,” ujar Bambang.
Seminar nasional ini juga membuka ruang diskusi tentang potensi geowisata dan eksplorasi sumber daya alam Aceh yang masih belum tergarap maksimal. Dengan pendekatan interdisipliner dan rekomendasi ilmiah, diharapkan lahir strategi pembangunan berkelanjutan berbasis geologi.
“Ini bagian dari literasi geologi untuk publik dan pemangku kebijakan. Kita harus gali potensi, bukan gali bencana,” tutup Mustanir.






