DONYAPOST, Banda Aceh – Wakil Menteri Agama RI, Dr. KH. Romo Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum., mendorong perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) memperkuat integrasi ilmu keislaman dengan sains dan teknologi untuk melahirkan sumber daya manusia yang unggul, kompetitif, serta memiliki fondasi moral dan spiritual yang kuat.
Penegasan tersebut disampaikan Wamenag dalam Rapat Senat Terbuka Milad ke-63 Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Kamis (5/11/2026).
Menurutnya, PTKIN harus mengambil peran strategis dalam pengembangan pendidikan berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak boleh berjalan sendiri, tetapi harus disertai penguatan nilai-nilai keislaman.
Ia menegaskan, tidak seharusnya ada sekat antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Keduanya perlu dikembangkan secara terpadu agar perguruan tinggi Islam mampu menghasilkan lulusan yang unggul dalam penguasaan teknologi sekaligus memiliki landasan moral dan spiritual.
Untuk memperkuat arah tersebut, Wamenag memaparkan lima pilar kebijakan riset PTKIN. Pertama, menjadikan riset sebagai prioritas utama perguruan tinggi. Kedua, memperkuat penelitian berbasis STEM. Ketiga, meningkatkan kolaborasi internasional. Keempat, mengembangkan penelitian yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kelima, memperluas akses dan jejaring perpustakaan ant perguruan tinggi.
Ia juga mendorong mahasiswa PTKIN agar memiliki kepercayaan diri dalam menghadapi persaingan sains global, sekaligus mampu memadukan nilai-nilai Al-Qur’an dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sementara itu, Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag., mengatakan Milad ke-63 menjadi momentum penting untuk memperkuat transformasi kelembagaan, meningkatkan mutu akademik, serta memperluas kontribusi universitas dalam menjawab tantangan masyarakat dan perkembangan global.
Menurutnya, perjalanan UIN Ar-Raniry sejak berdiri sebagai IAIN Ar-Raniry pada 5 Oktober 1963 hingga bertransformasi menjadi universitas pada 2013 menunjukkan perkembangan signifikan.
“Alhamdulillah, pada Milad ke-63 ini UIN Ar-Raniry telah mengalami perkembangan dan kemajuan yang signifikan dalam berbagai aspek. Capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh sivitas akademika serta dukungan berbagai mitra dan pemangku kepentingan,” ujar Mujiburrahman.
Dari sisi kelembagaan, UIN Ar-Raniry kini memiliki sembilan fakultas dan satu program pascasarjana dengan total 62 program studi. Universitas tersebut juga telah membuka Program Studi Kedokteran Program Sarjana dan Program Studi Pendidikan Profesi Dokter berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 962/B/O/2026.
Pada aspek mutu akademik, UIN Ar-Raniry telah meraih akreditasi institusi peringkat Unggul dari Badan Akreditasi Nasional dengan nilai 373. Sebanyak 60 persen program studi juga telah memperoleh akreditasi Unggul.
Penguatan kualitas sumber daya akademik ditopang oleh 66 guru besar, 60 jurnal terakreditasi nasional, serta empat jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus Q1.
Capaian lainnya, berdasarkan Scimago Institutions Rankings (SIR) 2026, UIN Ar-Raniry menempati peringkat pertama sebagai kampus riset terbaik di Indonesia, mengungguli sejumlah perguruan tinggi negeri terkemuka.
Mujiburrahman mengatakan pengembangan riset akan terus menjadi prioritas universitas untuk memperkuat daya saing akademik di tingkat nasional maupun internasional. Komitmen tersebut sejalan dengan masuknya pengembangan World Class Islamic University UIN Ar-Raniry dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
Dari sisi infrastruktur, UIN Ar-Raniry juga melanjutkan pembenahan fasilitas kampus melalui pembiayaan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Untuk periode 2027–2031, universitas merencanakan modernisasi pembangunan kampus melalui pembiayaan luar negeri dari Islamic Development Bank (IsDB).
Terkait penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa kepada Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan RI, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Mujiburrahman berharap penghargaan tersebut memberikan kontribusi strategis bagi pengembangan keilmuan, khususnya Program Studi Doktor Fiqh Modern.
“Penghargaan ini diharapkan dapat menjembatani dan mentransformasikan pemikiran hukum Islam ke dalam sistem hukum positif di Indonesia, sekaligus memperkuat hubungan kelembagaan antara perguruan tinggi, pembuat kebijakan, dan praktisi hukum di tingkat nasional,” katanya.
Ia menambahkan, berbagai capaian universitas tidak terlepas dari dukungan pemerintah pusat, Kementerian Agama, Pemerintah Aceh, lembaga legislatif, dunia usaha, perguruan tinggi mitra, serta masyarakat.






