DONYAPOST, Banda Aceh — Sedikitnya 80 akademisi dan peneliti dari dalam dan luar negeri membahas pengembangan ilmu pengetahuan yang inklusif dan berkelanjutan dalam The 5th Ar-Raniry International Conference on Islamic Studies (ARICIS V) di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Sabtu (24/10/2026).
Forum internasional ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dan disiplin ilmu agar penelitian tidak hanya menghasilkan publikasi akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Mengusung tema “Islamic Studies in Dialogue with Science and Society: Advancing Knowledge, Inclusion and Sustainability”, konferensi tersebut mempertemukan akademisi dari berbagai bidang untuk mendiskusikan hubungan kajian keislaman, sains, dan persoalan sosial kontemporer.
Kegiatan berlangsung di Aula Pascasarjana UIN Ar-Raniry melalui kerja sama Pusat Penelitian dan Penerbitan (Puslitpen) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) dengan Pascasarjana.
Mewakili Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Mujiburrahman, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Reza Idria, Ph.D., menegaskan bahwa perguruan tinggi harus melampaui peran sebagai penyampai pengetahuan.
Universitas dituntut menghasilkan gagasan baru, penelitian bermutu, dan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Pengembangan ilmu pengetahuan harus berjalan bersama dengan komitmen terhadap inklusivitas dan keberlanjutan. Universitas perlu menjadi ruang akademik yang menghargai keberagaman, membuka dialog, serta memberikan perhatian terhadap persoalan lingkungan dan masa depan masyarakat,” ujarnya.
Reza mengatakan, Aceh memiliki kekayaan tradisi intelektual Islam, pengalaman sosial, dan pengetahuan lokal yang berpotensi memberikan kontribusi penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan global.
Menurutnya, ARICIS menjadi sarana strategis bagi UIN Ar-Raniry untuk memperluas kolaborasi penelitian, meningkatkan kualitas publikasi ilmiah, serta memperkuat hubungan akademik dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian internasional.
Koordinator Puslitpen UIN Ar-Raniry, Dr. Sehat Ihsan Shadiqin, mengatakan ARICIS telah diselenggarakan sejak 2016 dan menjadi salah satu forum akademik internasional di lingkungan kampus tersebut.
Konferensi ini memberikan ruang bagi dosen, peneliti, dan mahasiswa untuk mempresentasikan hasil penelitian, bertukar gagasan, serta membangun jejaring akademik lintas institusi dan negara.
Konferensi ARICIS V juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-63 UIN Ar-Raniry. Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Prof. T. Zulfikar, berharap universitas terus mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut agar berkembang menjadi salah satu identitas utama kampus sekaligus wadah dialog ilmu pengetahuan.
Angkat Isu Inklusi, Solidaritas, dan Lingkungan
ARICIS V menghadirkan pembicara utama dari Indonesia dan Thailand yang mengangkat beragam perspektif mengenai peran penelitian dalam menjawab persoalan masyarakat.
Dr. Amporn Marddent dari Fakultas Sosiologi dan Antropologi, Thammasat University, Thailand, mempresentasikan materi bertajuk “From Research to Social Understanding: Inclusion, Sustainability and Cohesion through Ethnographic Research.”
Amporn menekankan bahwa penelitian tidak seharusnya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga perlu memperkuat pemahaman terhadap kehidupan masyarakat.
Melalui penelitian tentang perempuan Muslim Thailand dan pengungsi Rohingya, ia menunjukkan bagaimana pendekatan etnografi dapat menghadirkan suara kelompok yang kerap terabaikan dalam kebijakan maupun wacana publik.
Sementara itu, Prof. Ilham Maulana dari Universitas Syiah Kuala membahas hubungan antara pengembangan sains, keimanan, solidaritas kemanusiaan, dan tanggung jawab lingkungan.
Ia menegaskan bahwa kemajuan sains perlu disertai kesadaran etis agar hasil penelitian memberikan manfaat bagi kehidupan manusia sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Perspektif lain disampaikan Dr. Hafiz Salae dari Fakultas Ilmu Politik, Prince of Songkla University, Kampus Pattani, Thailand. Melalui presentasi “From Kitab to Community: The Pondok’s Journey from Islamic Education to Social Protection and Development in Thailand’s Southern Border Provinces”, ia mengulas transformasi lembaga pendidikan Islam tradisional di Thailand Selatan.
Hafiz menjelaskan bahwa pondok tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga berpotensi memperkuat perlindungan sosial dan pembangunan masyarakat.
Melalui program Pondok Sanjai, ia menunjukkan bagaimana kolaborasi antara ulama pondok, pemerintah, dan perguruan tinggi dapat memperkuat kepercayaan sosial serta meningkatkan kapasitas lembaga pendidikan Islam dalam menghadapi persoalan masyarakat.
Perluas Kolaborasi Riset Internasional
Selain sesi pembicara utama, ARICIS V menyediakan forum presentasi hasil penelitian dan diskusi akademik. Para peserta berkesempatan bertukar gagasan, membahas temuan penelitian, memperoleh masukan ilmiah, serta menjajaki peluang kolaborasi riset dan publikasi.
Berbagai perspektif yang dibahas menegaskan pentingnya keterhubungan antara penelitian sosial, pengembangan sains, dan pemberdayaan lembaga pendidikan Islam dalam membangun masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan.
Melalui konferensi ini, UIN Ar-Raniry mendorong penguatan budaya penelitian sekaligus memperluas jejaring akademik internasional. Kampus berharap pengetahuan yang dihasilkan perguruan tinggi tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga mampu menjawab tantangan sosial dan lingkungan.
Memasuki usia ke-63, UIN Ar-Raniry terus memperkuat komitmennya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, kerja sama akademik internasional, dan penelitian yang berdampak bagi masyarakat. []






