DONYAPOST, Banda Aceh — Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag., mengingatkan masjid tidak boleh menjadi ruang yang memperlebar jarak di tengah masyarakat yang berbeda pandangan, latar belakang dan pilihan.
Sebaliknya, masjid harus menjadi tempat memperkuat persaudaraan, dialog dan perdamaian.
Menurut Mujiburrahman, fungsi masjid tidak berhenti sebagai tempat ibadah. Masjid memiliki peran strategis sebagai ruang perjumpaan dan pembinaan masyarakat, terutama ketika perbedaan semakin mudah berkembang menjadi pertentangan.
“Masjid jangan hanya kita lihat sebagai tempat melaksanakan ibadah. Masjid juga harus menjadi tempat orang bertemu, berdialog, dan saling menguatkan. Karena itu, masjid semestinya menjadi ruang yang menyatukan umat, bukan justru membuat kita semakin berjarak,” kata Mujiburrahman.
Pernyataan tersebut disampaikannya menyikapi hasil International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 25–27 September 2026. Forum tersebut diikuti imam besar, mufti dan delegasi dari berbagai negara.
IGIC 2026 menyepakati pembentukan The International Assembly of Mosque Imams (IAMI) dan mempercayakan Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, sebagai presiden pertama. Forum tersebut juga menghasilkan Jakarta Understanding tentang harmoni masjid, diplomasi keagamaan dan perdamaian global.
Mujiburrahman menilai pesan tersebut relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Menurutnya, perbedaan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Yang penting, perbedaan tidak berkembang menjadi pertentangan.
“Pesan ini sangat relevan dengan kondisi kita hari ini. Perbedaan itu sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Yang penting adalah bagaimana perbedaan itu tidak menjadi sumber pertentangan. Di sinilah imam dan masjid mempunyai tanggung jawab yang besar,” ujarnya.
Ia mengatakan peran imam juga semakin luas. Selain memimpin salat dan menyampaikan khutbah, imam dituntut mampu membimbing masyarakat menghadapi berbagai persoalan, termasuk tantangan di ruang digital.
“Karena itu, saya kira peran imam hari ini semakin luas. Bukan hanya mengimami salat dan menyampaikan khutbah, tetapi juga membimbing masyarakat menghadapi berbagai persoalan yang berkembang, termasuk persoalan di ruang digital,” katanya.
Dalam Jakarta Understanding, para imam menyerukan penguatan peran masjid sebagai ruang komunitas yang terbuka dan inklusif. Dokumen tersebut juga menekankan penguatan literasi digital, penolakan terhadap hoaks dan ujaran kebencian, perlindungan kelompok rentan, kepedulian terhadap lingkungan serta penguatan diplomasi keagamaan dan dialog lintas iman.
Mujiburrahman menilai pesan perdamaian itu memiliki relevansi khusus bagi Aceh yang memiliki pengalaman dalam membangun perdamaian.
“Aceh punya pengalaman dalam membangun perdamaian. Pengalaman itu harus terus kita rawat. Jangan sampai generasi berikutnya hanya mengetahui perdamaian sebagai sebuah cerita, tetapi tidak memahami bagaimana perdamaian itu dibangun dan dijaga,” ujarnya.
Ia mengatakan pengalaman tersebut dapat menjadi modal sosial untuk memperkuat masjid sebagai tempat pembinaan umat dan membangun kehidupan masyarakat yang damai.
Mujiburrahman yang juga Ketua ICMI Aceh menambahkan, perguruan tinggi Islam dapat bersinergi dengan masjid melalui pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.
“Masjid dan perguruan tinggi juga harus berjalan bersama. Kampus memiliki pengetahuan dan tradisi akademik, sementara masjid sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Kalau keduanya dapat bersinergi, banyak persoalan umat yang bisa kita jawab dengan lebih baik,” katanya.
Menurutnya, nilai-nilai agama harus hadir dalam kehidupan sehari-hari dan diwujudkan dalam sikap yang menjaga martabat manusia serta kemampuan hidup bersama dalam perbedaan.
“Yang paling penting adalah bagaimana nilai-nilai agama itu benar-benar terasa dalam kehidupan. Agama harus melahirkan kedamaian, menjaga martabat manusia, dan membuat kita mampu hidup bersama dalam perbedaan,” ujarnya. []






