DONYAPOST, Jakarta — Ketua Umum Serikat Perusahaan Pers (SPS) Januar P. Ruswita menegaskan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) harus dimanfaatkan perusahaan pers sebagai pengungkit bisnis, bukan sekadar teknologi untuk mempercepat produksi konten.
Hal itu disampaikan Januar saat memberikan keynote speech pada SPS Workshop Series #36 bertema “Pemanfaatan AI untuk Penyusunan Proposal Marketing Bisnis Pers” di Hall Dewan Pers, Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Menurut Januar, perubahan perilaku audiens dan perkembangan teknologi digital telah mengubah ekosistem industri media. Kondisi tersebut menuntut perusahaan pers tidak hanya mempertahankan kualitas jurnalistik, tetapi juga memperkuat kemampuan membangun bisnis yang berkelanjutan.
“AI jangan hanya kita lihat sebagai alat untuk membuat pekerjaan lebih cepat. Kita harus melihatnya sebagai instrumen untuk membaca peluang, memahami kebutuhan pasar, dan memperkuat strategi bisnis perusahaan pers,” kata Januar.
Ia mengatakan AI dapat membantu perusahaan media mengolah data, memetakan kebutuhan calon klien, menyusun konsep proposal pemasaran, serta mengembangkan gagasan kampanye komunikasi yang lebih terukur.
Namun, Januar mengingatkan pemanfaatan AI tetap membutuhkan kendali manusia. Kreativitas, pengalaman jurnalistik, pemahaman terhadap audiens, integritas, dan kepercayaan, kata dia, merupakan nilai yang tidak boleh hilang dalam transformasi digital.
“AI bukan pengganti manusia. AI adalah alat bantu. Kualitas, kreativitas, dan keputusan strategis tetap berada di tangan kita,” ujarnya.
Januar juga mendorong perusahaan pers mengubah pendekatan pemasaran, dari sekadar menjual ruang iklan menjadi penyedia solusi komunikasi bagi klien.
“Proposal marketing yang kuat bukan hanya menjelaskan siapa kita. Proposal harus mampu menjawab masalah klien, solusi yang kita tawarkan, dan hasil yang bisa diberikan,” katanya.
Ia berharap workshop tersebut menghasilkan kemampuan praktis yang dapat langsung diterapkan perusahaan pers, termasuk dalam menyusun proposal, mengembangkan produk media, membaca peluang pasar, dan membangun sumber pendapatan baru.
“Perubahan teknologi harus kita hadapi dengan inovasi. Jangan sampai AI menjadi ancaman bagi media karena kita terlambat beradaptasi,” ujar Januar. []






