DONYAPOST, Banda Aceh — Bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor dinilai semakin mengancam keberlanjutan sektor kopi Gayo di dataran tinggi Aceh.
Peneliti Pusat Riset Kopi dan Kakao Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Ir. Abubakar, M.S., mengingatkan bahwa kondisi tersebut dapat menurunkan produktivitas kopi arabika yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat Gayo.
Dalam keterangannya, Ahad (10/5/2026), Abubakar menyebutkan bahwa sektor kopi sebelumnya telah menghadapi tekanan akibat perubahan iklim.
Namun, banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Sumatra pada akhir 2025 memperburuk kondisi perkebunan, terutama di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah sebagai sentra utama produksi kopi Gayo.
“Kerusakan lahan akibat longsor bisa menghilangkan lapisan tanah atas yang penting bagi tanaman kopi. Ini berdampak langsung pada produktivitas,” ujar Abubakar.
Menurutnya, curah hujan ekstrem dengan intensitas tinggi meningkatkan risiko longsor di wilayah perbukitan tempat kopi ditanam. Selain merusak tanaman, tanah yang jenuh air juga menyebabkan tanaman kopi mengalami stres sehingga memengaruhi pembentukan buah dan kualitas panen.
Ia menambahkan, perubahan pola curah hujan dalam beberapa tahun terakhir turut memperbesar ancaman terhadap keberlanjutan perkebunan kopi di kawasan Gayo. Meski curah hujan tahunan meningkat, distribusinya dinilai semakin tidak merata.
“Kondisi ini juga memicu peningkatan serangan hama dan penyakit tanaman seperti karat daun dan penggerek buah kopi, yang semakin menekan hasil produksi petani,” katanya.
Dampak bencana turut dirasakan petani kopi di wilayah terdampak. Zubaidah (59), petani asal Desa Wih Delung, Kecamatan Bale Redelong, Kabupaten Bener Meriah, mengaku sebagian kebun kopinya rusak akibat banjir yang disertai material longsor.
“Pagi setelah kejadian, kebun sudah tertutup tanah dan banyak tanaman rusak,” ujarnya.
Dari total 20 rante kebun kopi miliknya, sekitar delapan rante mengalami kerusakan. Material longsor juga menutup permukaan tanah dan berpotensi menurunkan kesuburan lahan sehingga membutuhkan waktu lama untuk pemulihan.
Selain itu, akses jalan yang sempat terputus beberapa hari turut menghambat distribusi hasil panen dan pasokan kebutuhan petani.
Meski demikian, sejumlah petani mulai melakukan langkah adaptasi, seperti membersihkan lahan yang tertimbun longsor, menanam kembali tanaman rusak, hingga menerapkan sistem tanaman naungan dan tumpangsari guna menjaga kelembaban tanah dan mengurangi risiko kerusakan di masa mendatang.
Abubakar menilai, tanpa pemulihan yang cepat dan berkelanjutan, dampak bencana hidrometeorologi berpotensi memengaruhi produksi kopi regional dalam jangka menengah.
Karena itu, ia mendorong kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk memperkuat strategi mitigasi serta adaptasi perubahan iklim di kawasan perkebunan kopi Gayo.
“Ketahanan sektor kopi tidak hanya penting bagi ekonomi masyarakat, tetapi juga bagi keberlanjutan identitas kopi Gayo sebagai salah satu komoditas unggulan Aceh yang telah dikenal hingga pasar internasional,” tutupnya.






