DONYAPOST, Banda Aceh – Layanan diagnostik di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh kini semakin canggih dengan hadirnya alat Magnetic Resonance Imaging (MRI) 1,5 Tesla, teknologi pencitraan medis beresolusi tinggi yang mempercepat diagnosis dan meningkatkan akurasi pemeriksaan pasien.
Pengadaan alat MRI baru ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Aceh memperkuat sarana dan prasarana kesehatan agar pelayanan medis semakin cepat, tepat, dan berkualitas. Dengan teknologi ini, masyarakat Aceh tidak lagi harus dirujuk ke luar daerah untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan.
“Alat MRI ini adalah langkah besar dalam meningkatkan kemampuan diagnosis dokter dan mempercepat layanan bagi masyarakat. Kini masyarakat dapat menikmati layanan berstandar tinggi di daerah sendiri,” ujar Sekda Aceh, M. Nasir, S.IP., MPA.
MRI 1,5 Tesla mampu menghasilkan citra organ tubuh dengan resolusi tinggi, sehingga sangat membantu dokter dalam menegakkan diagnosis penyakit, termasuk gangguan saraf, kardiovaskular, serta organ vital lainnya.
M. Nasir menegaskan, peningkatan fasilitas medis harus diikuti kesiapan sumber daya manusia (SDM) agar pemanfaatan alat berjalan optimal.
“Yang tidak kalah penting adalah memastikan kesiapan SDM. Kita harus menyiapkan tenaga profesional agar alat ini benar-benar optimal dan tidak bergantung pada personel yang terbatas,” ujarnya.
Sekda juga menyampaikan komitmen Pemerintah Aceh dalam mendukung RSUDZA sebagai rumah sakit rujukan utama dan kebanggaan masyarakat Aceh. RSUDZA saat ini telah ditetapkan Kementerian Kesehatan RI sebagai pengampu layanan Kanker, Jantung, Stroke, Uronefrologi, dan Kesehatan Ibu dan Anak (KJSU–KIA).
Selain memperkuat RSUDZA, Pemerintah Aceh juga tengah menuntaskan pembangunan empat rumah sakit regional. Salah satunya di Aceh Tengah telah diserahkan ke pemerintah kabupaten, namun masih membutuhkan tambahan alat medis dan tenaga kesehatan dari Kementerian Kesehatan.
“Kami berharap kerja sama dengan Kemenkes terus berlanjut agar layanan kesehatan semakin merata hingga ke daerah terpencil,” kata M. Nasir.
Plh. Direktur RSUDZA dr. Arifatul Khorida menjelaskan, alat MRI baru ini menggantikan perangkat lama yang telah berusia lebih dari 15 tahun.
“Alhamdulillah alat baru sudah berfungsi sebagian dan segera beroperasi penuh. Kami berterima kasih atas dukungan dan kepercayaan dari Kemenkes,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Hibah dan Pinjaman Luar Negeri/Manager PMU Sihren, Aderia Rintani, menyebut penyerahan alat ini sebagai bentuk nyata kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan rumah sakit dalam memperkuat sistem kesehatan nasional.
“Ini bukan sekadar seremoni. Kami menanggung biaya pemeliharaan alat selama lima tahun agar operasionalnya optimal. Namun yang paling penting adalah memastikan alat ini dimanfaatkan secara efektif dengan dukungan SDM yang kompeten,” kata Aderia.
Ia menambahkan, pemerintah daerah perlu menyiapkan tenaga ahli melalui pelatihan dan program beasiswa agar investasi besar ini benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat Aceh.






