DONYAPOST, Aceh Besar — Pemerintah Kabupaten Aceh Besar mengapresiasi kontribusi Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Aceh dalam mendukung program ketahanan pangan melalui kegiatan panen raya bersama petani di Gampong Teurebeh, Kota Jantho, Rabu (8/4/2026).
Apresiasi tersebut disampaikan Asisten II Sekdakab Aceh Besar Bidang Perekonomian dan Pembangunan, M Ali SSos MSi yang juga menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Aceh Besar.
“Atas nama pemerintah daerah kami menyampaikan terima kasih kepada INTI Aceh atas kontribusi dan dukungannya kepada para petani di Aceh Besar,” ujar M Ali dalam sambutannya.
Ia menyampaikan salam dari Bupati Aceh Besar yang berhalangan hadir karena mengikuti kegiatan panen jagung di lokasi lain dalam rangka program ketahanan pangan.
Menurutnya, pendampingan yang dilakukan INTI Aceh kepada petani dinilai mampu meningkatkan produktivitas pertanian, khususnya padi. Jika sebelumnya hasil panen berkisar antara 6 hingga 7 ton per hektare, melalui inovasi dan pendampingan yang dilakukan, hasil panen berpotensi meningkat hingga sekitar 10 ton per hektare.
M Ali juga menyoroti berkurangnya luas lahan persawahan di Aceh Besar sejak terjadinya Gempa dan Tsunami Aceh 2004.
“Sebelum tsunami luas sawah di Aceh Besar mencapai sekitar 26 ribu hektare. Saat ini tersisa sekitar 21.600 hektare. Artinya hampir 5.000 hektare lahan telah beralih fungsi menjadi kawasan permukiman dan pembangunan lainnya,” jelasnya.
Karena itu, pemerintah daerah kini lebih berhati-hati dalam memberikan izin pembangunan agar tidak semakin mengurangi lahan pertanian produktif.
Selain itu, petani juga didorong untuk memanfaatkan lahan secara optimal dengan menanam komoditas lain seperti jagung, kacang hijau, dan cabai pada musim kemarau.
Pemkab Aceh Besar juga tengah mengembangkan padi gogo yang lebih tahan terhadap kondisi lahan kering. Tahun ini, padi gogo mulai ditanam di lahan seluas sekitar 90 hektare di wilayah Kota Jantho dan Kuta Cot Glie.
Sementara itu, Ketua Pengurus Daerah INTI Aceh, Azmi Abubakar, mengatakan organisasi tersebut telah aktif di Aceh sejak masa pasca Gempa dan Tsunami 2004 melalui berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.
“Kami berharap kerja sama antara INTI, pemerintah, dan masyarakat Aceh dapat terus diperkuat untuk menghadapi berbagai tantangan ke depan,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Tanaman Hortikultura Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Khairil Anwar, menyebutkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya terkait produksi beras, tetapi juga komoditas lain seperti cabai dan bawang merah.
Ia menambahkan, Aceh saat ini telah mengalami surplus untuk beberapa komoditas seperti padi serta cabai merah dan cabai rawit. Namun untuk bawang merah masih mengalami defisit sehingga masih dipasok dari luar daerah.
“Karena itu, bawang merah memiliki prospek ekonomi yang sangat baik untuk dikembangkan di Aceh Besar,” kata Khairil.
