Berita  

Kemenag Aceh Gelar Rukyat Hilal di Enam Lokasi

Ilustrasi dibuat AI

DONYAPOST, Banda Aceh — Kementerian Agama Provinsi Aceh akan melaksanakan rukyat hilal penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah di enam titik pengamatan di Aceh pada Kamis (19/3/2026).

Pengamatan hilal tersebut akan digelar di sejumlah lokasi strategis, yakni Observatorium Tgk. Chiek Kuta Karang di Lhoknga, Tugu Nol Kilometer, Bukit Blang Tiron (Perta Arun Gas) di Lhokseumawe, Pantai Lhokgeulumpang di Aceh Jaya, POB Suak Geudubang di Aceh Barat, serta Pantai Nancala di Simeulue.

Untuk mendukung pemantauan, Kemenag Aceh menyiapkan lima teleskop astronomi di Observatorium Tgk. Chiek Kuta Karang. Kegiatan ini juga terbuka untuk masyarakat umum.

Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari, mengatakan pengamatan hilal akan dilakukan bersamaan dengan sidang isbat yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar di Jakarta.

“Pemantauan dimulai setelah salat Asar dan diawali dengan pemaparan posisi hilal oleh Tim Hisab Rukyat serta ahli astronomi Aceh,” ujarnya.

Ia menambahkan, hasil rukyat dari seluruh Indonesia akan menjadi dasar penetapan awal Syawal yang diumumkan pemerintah sekitar pukul 19.30 WIB.

Azhari juga mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga persatuan apabila terjadi perbedaan dalam penetapan Hari Raya Idul Fitri.

“Perbedaan hendaknya disikapi dengan saling menghargai, karena masing-masing memiliki dasar,” katanya.

Sementara itu, Ketua Tim Falakiyah Kanwil Kemenag Aceh, Alfirdaus Putra, menjelaskan posisi hilal pada 29 Ramadan 1447 H masih berada di bawah kriteria imkan rukyat yang digunakan negara-negara anggota MABIMS.

Kriteria tersebut mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Namun, pada 29 Ramadan, ketinggian hilal di Aceh mencapai 3,1 derajat dengan elongasi 6,1 derajat.

“Kondisi ini menyebabkan cahaya matahari masih lebih dominan dibandingkan cahaya bulan, sehingga hilal sulit diamati,” jelasnya.

Menurut Alfirdaus, secara empiris hilal belum pernah terlihat pada elongasi di bawah 6,4 derajat. Meski demikian, rukyat tetap dilakukan sebagai bagian dari upaya verifikasi ilmiah.

Pengamatan hilal dijadwalkan berlangsung sekitar waktu Magrib, dengan durasi sekitar 15 menit di observatorium utama di Lhoknga.

Jika hilal berhasil terlihat pada Kamis (19/3), maka 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Namun jika tidak terlihat, Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari sehingga Idul Fitri kemungkinan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.