DONYAPOST, Banda Aceh — Grup WhatsApp (WAG) Chank Panah menggelar silaturahmi dan buka puasa bersama di RA Kupi, Gampong Baet, Aceh Besar, Rabu (4/3/2026). Kegiatan ini menjadi ajang temu langsung para anggota grup yang telah terbentuk sejak 2010.
Komunitas tersebut beranggotakan lintas generasi, mulai dari aparatur sipil negara hingga sejumlah pejabat di lingkungan UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Meski bermula dari ruang digital, para anggota grup ini secara rutin menggelar berbagai kegiatan kebersamaan, seperti tradisi meugang, peringatan Maulid Nabi, hingga kegiatan sosial lainnya.
Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (AUPK) UIN Ar-Raniry, Hilmi, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menilai Chank Panah sebagai komunitas informal yang memberi kontribusi positif bagi lingkungan kampus.
“Tidak ada struktur formal, tetapi komunikasi di dalamnya sering melahirkan gagasan yang kemudian berkembang menjadi terobosan,” kata Hilmi.
Menurutnya, keberadaan komunitas semacam ini dapat memperkuat silaturahmi sekaligus membuka ruang diskusi yang produktif bagi para anggota yang berasal dari latar belakang berbeda.
Ia berharap Chank Panah tetap menjadi wadah kebersamaan sekaligus penggerak berbagai kegiatan sosial di lingkungan kampus dan masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut juga digelar tausiah yang disampaikan oleh Tgk. T. Raja Ubit, yang juga merupakan tenaga kependidikan UIN Ar-Raniry.
Dalam tausiah bertajuk Menemukan Cahaya di Tengah Kebisingan Dunia, ia menyoroti tantangan menjaga kejernihan hati di tengah derasnya arus informasi di era digital.
Menurutnya, kebisingan modern tidak hanya berasal dari gawai dan media sosial, tetapi juga dari ambisi dan reaksi emosional yang tidak terkontrol.
Ia mengajak peserta menjadikan diam sebagai bentuk tafakkur dan pengendalian diri, merujuk pada hadis Nabi tentang pentingnya berkata baik atau memilih untuk diam.
“Dunia tidak akan pernah berhenti berisik. Tempat tenang yang tersisa adalah hati yang terhubung dengan Allah,” ujarnya.
Dalam tausiahnya, ia juga menyinggung keteladanan Rasulullah SAW yang menjelang usia 40 tahun kerap melakukan uzlah (menyendiri) di Gua Hira. Ia juga mengingatkan kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz yang memanfaatkan keheningan malam sebagai waktu refleksi diri.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut tetap relevan bagi aparatur dan kalangan akademisi dalam menjaga etika komunikasi, termasuk dalam penggunaan media sosial maupun grup percakapan digital.
Kegiatan silaturahmi dan buka puasa bersama itu ditutup dengan doa bersama serta komitmen para anggota untuk terus menjaga hubungan persaudaraan, baik di ruang digital maupun melalui pertemuan langsung.
