DONYAPOST, Banda Aceh —- UIN Ar-Raniry Banda Aceh menargetkan peningkatan perolehan dana riset melalui skema MoRA The AIR Funds 2026 dari Kementerian Agama Republik Indonesia. Kampus mendorong dosen memperkuat kualitas proposal agar peluang lolos pendanaan lebih besar.
Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Mujiburrahman MAg mengatakan serapan dana riset kampus selama ini belum optimal dibanding total anggaran nasional yang tersedia.
“Setelah sosialisasi ini, segera bentuk tim peneliti. Jangan berhenti hanya selesai di acara ini saja. Pastikan proposal yang diajukan benar-benar mengikuti standar agar peluang pendanaan lebih besar,” kata Mujiburrahman dalam sosialisasi MoRA The AIR Funds 2026 di Aula Gedung SBSN, Rabu (4/3/2026).
Ia meminta ketua program studi dan pimpinan fakultas aktif mengawal penyusunan proposal. Menurut Mujib, kelemahan substansi dan ketidaktepatan penyusunan anggaran kerap menjadi kendala.
“Ada proposal bagus tapi anggarannya tidak proporsional. Ada juga yang lemah sejak awal. Ini soal kedisiplinan mengikuti pedoman,” ujarnya.
Pada Program Riset Indonesia Bangkit 2026, UIN Ar-Raniry hanya meloloskan dua tim. Tim yang diketuai Inayatillah memperoleh anggaran Rp 350 juta untuk dua tahun, sedangkan tim yang dipimpin Zya Dyena Meutia meraih Rp 500 juta untuk periode yang sama.
Sebelumnya tahun 2025 tim peneliti yang diketuai Abd. Mujahid Hamdan juga memperoleh anggaran penelitian Rp 5 milyar untuk 3 tahun.
Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) Kemenag, Ruchman Basori, mengatakan penguatan sumber daya manusia perguruan tinggi keagamaan menjadi prasyarat menuju visi Indonesia Emas 2045. Instrumennya antara lain beasiswa dan riset.
Ia menyoroti transformasi sejumlah IAIN menjadi UIN yang belum sepenuhnya ditopang dosen berlatar belakang sains dan STEM. Menurut dia, percepatan pendidikan sarjana dan pascasarjana di bidang sains dan teknologi mendesak untuk meningkatkan daya saing kelembagaan.
“Kalau ingin bicara daya saing global, kuncinya kualitas SDM. Itu dimulai dari pendidikan tinggi,” kata Ruchman.
Melalui Program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB), Kemenag mencatat 39.361 penerima sepanjang 2022–2025 dengan total anggaran Rp 2,576 triliun.
Selain itu, Kemenag mengalokasikan Rp 50 miliar per tahun pada 2024–2026 untuk Program Riset Indonesia Bangkit atau MoRA The AIR Funds, hasil kolaborasi dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan.
Skema ini ditujukan bagi dosen perguruan tinggi keagamaan dan Ma’had Aly. “Riset tidak boleh berhenti pada laporan. Harus menjadi rujukan kebijakan publik dan memberi dampak,” ujar Ruchman.
Ketua Tim Investasi Pendidikan, Kerja Sama, dan Riset Kemenag, Hendro Dwi Antoro, menekankan pentingnya luaran riset yang terukur dan aplikatif. Proposal, kata dia, harus dirancang secara kolaboratif dan menjawab persoalan konkret masyarakat.
Ia menyebut sejumlah tema prioritas nasional, seperti penurunan kemiskinan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Riset juga diharapkan selaras dengan program prioritas Menteri Agama, termasuk ekoteologi, kurikulum berbasis cinta, dan pengembangan ekonomi umat.
Skema pendanaan mendorong kolaborasi perguruan tinggi, lembaga riset, dan dunia usaha guna memperkuat hilirisasi hasil penelitian serta meningkatkan publikasi internasional, paten, dan kekayaan intelektual. [ ]
