DONYAPOST, Banda Aceh — Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Aceh bekerja sama dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) Regional Aceh menggelar sosialisasi Tabungan Haji dan Tabungan Emas dalam program bertajuk “Langkah Emas Berhaji Bersama BSI” di Gedung Landmark BSI Aceh, Selasa (3/3/2026).
Kegiatan yang dirangkai dengan silaturahmi, buka puasa bersama, serta santunan anak yatim ini menghadirkan Wakil Sekretaris Jenderal PP ISNU Ruchman Basori yang juga menjabat Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Keagamaan Kementerian Agama.
Rektor UIN Ar-Raniry Mujiburrahman, Ketua STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh Syamsuar, serta Kepala Kanwil Kementerian Agama Aceh Azhari. Turut hadir perwakilan BSI Regional Aceh, unsur MPU Aceh, dan badan otonom NU.
Antrean Haji Kian Panjang
Islamic Ecosystem Business Development Officer BSI, Erry Dianto, memaparkan bahwa antrean haji nasional terus meningkat. Berdasarkan data Kementerian Agama hingga November 2025, daftar tunggu haji telah mencapai lebih dari 5,6 juta orang.
Dengan kuota sekitar 200 ribu jemaah per tahun dan pendaftar baru sekitar 500 ribu orang per tahun, masa tunggu di sejumlah daerah semakin panjang. Di Aceh dan Jawa Timur, waktu tunggu tercatat sekitar 34 tahun, sementara di Kalimantan Selatan mencapai 36 tahun.
Selain itu, Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) juga mengalami kenaikan. Untuk haji reguler, biaya yang dibayarkan jemaah berkisar Rp60 juta dengan masa tinggal sekitar 40 hari. Sementara haji khusus memerlukan dana sekitar US$10 ribu dengan masa tunggu rata-rata delapan tahun.
Solusi Perencanaan Sejak Dini
Merespons kondisi tersebut, BSI menawarkan produk Tabungan Haji Muda Indonesia yang memungkinkan orang tua mendaftarkan anak sejak usia 12 tahun sesuai Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2018. Produk ini menyediakan setoran awal minimal Rp100 ribu, pilihan akad wadiah atau mudharabah, serta fasilitas autodebet.
Islamic Ecosystem Business Solution Manager BSI Regional Aceh, Hilwasi, menegaskan pentingnya perencanaan matang di tengah panjangnya masa tunggu.
Ia mencontohkan, jika seorang anak menabung Rp350 ribu per bulan sejak usia enam tahun, maka pada usia 12 tahun saldo tabungan dapat digunakan untuk memperoleh nomor porsi haji. Dengan asumsi masa tunggu 34 tahun, calon jemaah diperkirakan dapat berangkat pada usia 46 tahun.
“Perencanaan yang matang menjadi kunci di tengah masa tunggu yang panjang. Lebih cepat lebih baik,” ujarnya.
Sekretaris PW ISNU Aceh, Rahmad Syah Putra, mengapresiasi kolaborasi tersebut dan berharap kerja sama ini dapat meningkatkan literasi serta kesiapan finansial masyarakat dalam merencanakan ibadah haji.
Dalam kesempatan itu, sejumlah pengurus ISNU Aceh langsung membuka tabungan haji sebagai bentuk komitmen perencanaan sejak dini.
Rahmad menjelaskan, kegiatan ini merupakan kemitraan ketiga antara ISNU dan BSI Regional Aceh. Sebelumnya, kedua pihak telah bekerja sama dalam pengusulan KTA ISNU terintegrasi e-money, pembukaan tabungan haji dan emas, serta penguatan ekosistem syariah melalui sarasehan dan diskusi.
Melalui sinergi ini, ISNU Aceh dan BSI berharap kesadaran masyarakat untuk merencanakan ibadah haji sejak dini semakin meningkat, sehingga mampu mengantisipasi panjangnya antrean dan dinamika biaya penyelenggaraan haji.
