Indeks
Berita  

Nazaruddin Musa: Masjid Harus Beradaptasi dengan Era Digital

DONYAPOST, Jakarta — Dosen Program Studi Ilmu Perpustakaan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Nazaruddin Musa, menegaskan bahwa masjid perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital agar tetap relevan di tengah perubahan sosial dan dominasi generasi digital.

Pernyataan tersebut disampaikan Nazaruddin saat menjadi narasumber dalam Simposium Nasional Kemasjidan Indonesia yang digelar di Gedung Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Agama RI, Ciputat, Kamis (5/2/2026).

Menurutnya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki peran strategis sebagai pusat edukasi dan literasi keislaman, pengembangan ekonomi umat, serta pembinaan generasi muda. Namun, peran tersebut dinilai belum dimaksimalkan, terutama dalam pemanfaatan teknologi informasi.

“Masjid perlu beradaptasi dengan digital agar mampu menjangkau generasi muda dan memperluas layanan keumatan,” ujar Nazaruddin.

Ia menilai salah satu persoalan utama yang dihadapi masjid saat ini adalah lemahnya manajemen sistem informasi. Di tengah dominasi generasi digital, teknologi informasi seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses dakwah, edukasi keislaman, serta layanan sosial berbasis masjid.

Nazaruddin juga menyoroti masih kuatnya stigma negatif terhadap internet di kalangan pengelola masjid. Selain keterbatasan pendanaan, persepsi bahwa internet membawa lebih banyak mudarat daripada manfaat kerap menjadi penghambat pemanfaatan teknologi secara produktif.

“Internet sejatinya hanyalah alat. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana ia digunakan,” tegasnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Nazaruddin menawarkan konsep Masjid Digital sebagai pendekatan sistematis yang disesuaikan dengan kebutuhan masjid. Konsep ini dirancang melalui dua tahapan utama, yakni perencanaan dan implementasi.

Tahap perencanaan meliputi analisis kebutuhan, kajian literatur, serta diskusi kelompok terarah dengan para pemangku kepentingan.

Sementara tahap implementasi mencakup pengembangan prototipe situs web dan basis data masjid, pengujian sistem, evaluasi kemudahan penggunaan, hingga peresmian.

Penerapan awal konsep Masjid Digital telah dilakukan di Masjid Baitul Jannah, Kemukiman Tungkop, Aceh Besar, yang diharapkan menjadi model pengelolaan sistem informasi masjid berbasis digital dan dapat direplikasi di daerah lain.

Menurut Nazaruddin, digitalisasi masjid tidak hanya meningkatkan kualitas layanan informasi keislaman, tetapi juga membuka ruang partisipasi generasi muda.

“Masjid digital dapat menjadi ruang baru bagi generasi muda untuk berkontribusi, berkreasi, dan memperkaya khazanah keislaman yang dapat diakses secara global,” ujarnya.

Gagasan tersebut sejalan dengan agenda Pengurus Pusat Perhimpunan Remaja Masjid Dewan Masjid Indonesia (PRIMA DMI) dalam memperkuat peran remaja masjid secara nasional.

Dalam forum tersebut, Nazaruddin menyampaikan materi bertajuk Masjid Digital: Strategi Ekspansi Peran Masjid di Era Milenial.

Simposium ini merupakan bagian dari rangkaian Silaturahmi Nasional (Silatnas) PRIMA DMI yang berlangsung pada 5–7 Februari 2026 dengan tema Merajut Ukhuwah, Menyemai Peradaban Qurani. Kegiatan ini dibuka oleh Ketua Umum PP Dewan Masjid Indonesia, Jusuf Kalla, dan dihadiri sejumlah tokoh nasional.

Exit mobile version