Berita  

Mahasiswa Aceh Dalami Geopolitik Asia Timur hingga Adaptasi Budaya di Kinmen

Adinda Fitriani, mahasiswi Prodi Akuntansi Internasional, FEB USK

DONYAPOST, Banda Aceh — Kesempatan belajar lintas negara dimanfaatkan Adinda Fitriani, mahasiswi semester III Program Studi Akuntansi Internasional, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (USK), untuk memperluas wawasan akademik dan kultural di Taiwan.

Selama lima bulan, Adinda mengikuti New Southbound Policy Elite Study Program di National Quemoy University (NQU), sebuah program prestisius yang digagas Pemerintah Taiwan.

Melalui program tersebut, Adinda mendalami berbagai isu strategis Asia Timur, mulai dari Hubungan Lintas Selat Taiwan–Tiongkok, politik dan ekonomi regional, hubungan internasional, hingga bahasa Mandarin. Ia mengaku mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda dari perkuliahan di tanah air.

“Lingkungan akademiknya sangat dinamis. Diskusi di kelas berjalan intens, ditambah analisis kebijakan melalui presentasi individu dan kelompok,” ujar Adinda.

Salah satu pengalaman akademik paling berkesan baginya adalah saat menganalisis hubungan ekonomi Taiwan–Tiongkok serta mempresentasikan konsep soft power Taiwan.

Ia mencatat, meski sistem perkuliahan relatif mirip dengan Indonesia, kedisiplinan akademik di Taiwan sangat tinggi, bahkan jadwal kelas kerap berlangsung hingga malam hari.

Tak hanya fokus akademik, Adinda juga aktif mengeksplorasi sisi historis dan budaya Pulau Kinmen.

Ia mengunjungi museum, desa tradisional, hingga pasar lokal, serta bersepeda mengelilingi Little Kinmen sambil menikmati pemandangan Kota Xiamen dan daratan Tiongkok dari seberang laut.

Sebagai bagian dari kewajiban program, Adinda mendokumentasikan seluruh pengalamannya melalui vlog bulanan yang diunggah ke kanal YouTube resmi kampus. Dokumentasi tersebut menjadi jejak digital sekaligus sarana berbagi perspektif mahasiswa internasional.

“Tantangan terbesar justru datang dari kehidupan sehari-hari, terutama sebagai Muslim minoritas. Akses makanan halal dan fasilitas ibadah terbatas, sehingga saya harus lebih mandiri dan adaptif,” tuturnya.

Meski demikian, Adinda menilai tantangan tersebut justru membentuk kemampuan komunikasi lintas budaya dan problem solving.

Ia berharap pengalaman ini menjadi bekal penting bagi kariernya ke depan sekaligus memotivasi mahasiswa USK lainnya untuk berani mengambil peluang internasional.

“Pengalaman ini sangat berharga. Semua proses dan perjuangannya benar-benar sepadan,” pungkasnya.