DONYAPOST, Banda Aceh – Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) UIN Ar-Raniry, Sofiatuddin Syah, menegaskan bahwa pencegahan dan penanganan kekerasan di perguruan tinggi harus menjadi komitmen bersama seluruh elemen kampus.
Hal itu ia sampaikan dalam diskusi publik bertema “Implementasi SDGs melalui Upaya Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi” yang digelar di Aula Theater Museum UIN Ar-Raniry, Senin (29/9/2025).
Menurut Sofiatuddin, perguruan tinggi tidak hanya bertanggung jawab mencetak lulusan unggul secara akademik, tetapi juga wajib memastikan lingkungan belajar yang aman dan bebas kekerasan.
“Pelecehan seksual, perundungan, diskriminasi, maupun bentuk kekerasan lain bukan hanya merugikan korban, tetapi juga mencederai nilai luhur pendidikan,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa sebagai agen perubahan. “Mahasiswa bisa menjadi pengawas sosial, membangun komunitas peduli, serta mendorong lahirnya gerakan budaya antikekerasan,” tambahnya.
Sofiatuddin juga menyoroti peran strategis Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Ar-Raniry yang dinilai perlu diperkuat dalam advokasi dan pendampingan.
Sementara itu, Koordinator PSGA UIN Ar-Raniry, Dr. Nashriyah, menilai kekerasan menjadi hambatan besar dalam mewujudkan pendidikan berkualitas. Ia memaparkan bahwa pelecehan seksual merupakan kasus terbanyak di perguruan tinggi (45 persen), disusul perundungan (30 persen).
“Edukasi wajib bagi mahasiswa dan dosen terbukti efektif hingga 85 persen dalam membangun budaya nol toleransi kekerasan. Namun, budaya diam dan relasi kuasa yang timpang masih menjadi hambatan serius,” tegasnya.
Diskusi publik ini terlaksana berkat kolaborasi SDGs Center UIN Ar-Raniry, Mahasiswa Aceh Besar (Mabes), DWP, serta PSGA, sebagai wujud komitmen menciptakan kampus yang aman dan inklusif. []
